Thursday, 12 December 2013

Belajar kepada Nabi Khidir

Sebuah kisah antara Nabi Musa AS dengan Nabi Khidir yang sangat masyhur di telinga kita. Singkat cerita dalam sebuah perjalanan beliau berdua, ada 3 kejadian yang menurut Nabi Musa tidak sesuai dengan akal sehat. Kejadian pertama Nabi Khidir membocorkan sebuah perahu, kejadian kedua Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil dan kejadian ketiga Nabi Khidir mendirikan sebuah papan yang sudah rapuh. Karena perjanjian awal apabila Nabi Musa mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir, maka mereka bersepakat untuk berpisah dalam perjalanan. Dalam perpisahan itu akhirnya Nabi Khidir menjelaskan apa alasannya melakukan 3 perbuatan yang dianggap aneh oleh Nabi Musa. Membocorkan sebuah perahu adalah sebuah pencegahan karena perahu tersebut akan dirampok, membunuh anak kecil karena anak tersebut berpotensi membuat orang tuanya kafir, sedangkan sebuah papan yang rapuh didirikan kembali karena dibalik papan tersebut ada harta anak yatim.

Akan ada banyak tafsiran mengenai kisah Nabi Khidir ini. Ada yang hanya menjadikan cerita ini sebagai cerita pengantar tidur anaknya, ada juga yang mencoba menjadikan kisah ini sebagai pelajaran berharga yang mungkin saja akan terjadi dimasa yang akan datang dalam skala dimensi ruang dan waktu yang berbeda.

Jika boleh saya ibaratkan Indonesia adalah sebuah perahu besar yang sangat banyak sekali asetnya. Perahu besar ini sudah dijarah berkali-kai namun entah kenapa tidak ada habis-habisnya. Ada potensi perampokan besar-besaran terhadap aset-aset bangsa ini di tahun-tahun yang akan datang. Apakah perahu yang besar ini perlu dibocorkan agar perampok mengurungkan niatnya untuk merampok perahu ini? Apakah Indonesia ini perlu dibocorkan pada skala tertentu sehingga sebuah harta masa depan tidak bisa dijarah oleh para perampok masa depan?.

Proses pembocoran perahu itu bisa bermacam-macam bentuknya. Gunung meletus, gempa bumi, banjir, tsunami dan lain sbagainya adalah beberapa opsi untuk membocorkan perahu yang besar ini. Seleksi alam terhadap calon generasi penerus yang berpotensi menjadi perampok masa depan juga merupakan bagian dari opsi tersebut.

Ada sebuah harta karun yang sangat besar yangmasih tersimpan dan belum terpublikasi di masyarakat, namun berpotensi menjadi rebutan bagi para perampok tahun depan. Dan ada sebagian orang yang sedang menegakkan pagar masa depan agar harta ini tidak mudah dicapai oleh tangan-tangan culas para perampok masa depan.

Ah, ini hanya sebuah tulisan saja. Anggap saja sebagai tulisan orang bodoh yang masih perlu banyak belajar kepada alam.

0 komentar: