Friday, 11 October 2013

Garuda muda, teruslah terbang tinggi.....

Evan DImas

Sebagai penikmat sepakbola, tentu menjadi kebanggan tersendiri ketika menyaksikan perjuangan tim nasional Indonesia berlaga dan menampilkan permainan yang impresif dan meyakinkan. Indra Sjafrie dengan skuat Timnas U-19 yang ia pilih sendiri membuktikan bahwa pemain Indonesia mampu menampilkan permainan bola yang indah.

Melihat Evan Dimas dan kawan-kawan bermain, seakan tidak percaya bahwa mereka mampu bemain sangat impresif. Pada kejuaraan Piala AFF U-19 beberapa pekan yang lalu, mereka membuktikan bahwa mereka bisa juara. Sempat dikalahkan oleh Vietnam di fase grup, Evan Dimas dkk mampu mengalahkan Vietnam di babak Final melalui adu pinalti. Setelah 22 tahun Timnas Indonesia nir-gelar, akhirnya lewat Timnas U-19 kita Juara.

Setelah gelaran Piala AFF U-19, Evan Dimas dkk melanjutkan pembuktiannya di ajang kualifikasi Piala AFC U-19. Berada satu grup dengan Laos, Filipina dan Korea Selatan. Di pertandingan melawan Laos, Evan Dimas dkk berhasil membungkam Laos dengan skor 4-0. Evan DImas tercatat sebagai pemain terbaik di pertandingan tersebut dengan torehan 1 gol dan 2 assist serta satu key pass. Kemenangan dengan skor 4 gol tersebut bukan didapat dengan mudah, Evan Dimas dkk harus meladeni pressing tinggi pemain Laos yang tampil dengan formasi 4-2-3-1. Bahkan striker Laos, Phithack seringkali melakukan tekel terhadap pemain Indonesia. Praktis di babak pertama Indonesia sangat minim kreasi, bahkan shoot on target Laos lebih banyak ketimbang Indonesia. Permainan high pressing Laos memaksa mereka bermain cenderung kasar, hal ini dimanfaatkan denganbaik oleh anak asuh Indra Sjafrie, Gol pertama Indonesia pun bermula dari sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh pemain bertahan Laos. 3 gelandang dan 3 striker Laos melakukan serangan sporadis yang acapkali merepotkan pertahanan Indonesia di babak pertama. Indra Sjafrie membuktyikan kelihaianannya meracik strategi. Menghadapi Laos dengan pressing ketat, Hargianto yang diplot sebagai Defensive Midfielder diganti oleh Paulo Sitanggang yang memiliki kemampuan sebagai box-to-box midfielder. Dengan strategi ini, 3 gelandang Indonesia seringkali bertarung dengan 3 gelandang Laos di daerah pertahanan  Laos. Strategi ini mengakibatkan Laos cenderung bermain keras dalam perebutan bola dan mengakibatkan 2 kartu merah bagi pemain mereka. Tekanan di babak kedua berpindah kepada Laos. Di babak kedua Laos bahkan tidak memiliki satu percobaan pun yang mengarah ke gawang Ravi Murdiyanto. Berbanding terbalik dengan Indonesia yang berhasil melakukan 11 tendangan mengarah ke gawang Laos, dengan 5 diantaranya on goal, dan 3 berbuah gol. Babak kedua menjadi milik Evan DImas dkk.

Laga kedua tadi malam melanjutkan kegemilangan strategi Indra Sjafrie. Filipina yang sejak babak pertama menerapkan skema bertahan total, memaksa anak asuh Indra Sjafrie untuk melakukan tembakan dari luar kotak pinalti lawan. Beberapa kali Indonesia melakukan shooting dari luar kotak pinalti yang memaksa Kiper Filipina menghalau bola. Gol pertama Indonesia tadi malam adalah gol yang sangat indah hasil dari sepakan keras Hargianto yang mengeksekusi tendangan bebas dari luar kotak pinalti setelah sebelumnya Evan Dimas melakukan percobaan pertama yang mengenai mistar gawang. Setelahnya, berkali-kali pemain Indonesia melakukan tendangan dari luar kotak pinalti dikarenakan Filipina menumpuk pemain mereka di area pertahanan mereka. Seringkali kita melihat setidaknya 9 pemain Filipina berada di area final third.  Evan Dimas dkk mampu mengontrol permainan bahkan menguasai ball posession  mencapai 70%. Umpan dari kaki ke kaki para pemain Indonesia diperagakan dengan sangat atraktif dan tenang. Bahkan beberapa kali mereka berani memainkan bola di dalam kotak pinalti lawan. Adalah Yabes Roni Malaifani yang akhirnya menambah gol bagi Indonesia, menggantikan posisi sayap yang sebelumnya diisi Dinan Yahdian Javier, Yabes menusuk dari sisi kiri pertahanan Filipina memanfaatkan umpan Paulo Sitanggang dan membuahkan gol di menit ke 84. Sepakan kerasnya tidak mampu ditahan oleh Kiper Filipina, Vallez Bayan. Toal Indonesia melakukan 37 percobaan ke gawang Filipina dengan 17 diantranya on target. Sedangkan Filipina hanya melakukan 7 percobaan dengan 2 diantaranya on target.

Besok malam, Evan Dimas dkk akan menghadapi Korea Selatan di laga pamungkas kualifikasi Piala AFC 2014. Jika Indonesia ingin lolos ke fase grup Piala AFC 2014, Indonesia harus mengalahkan Korea Selatan. Hasil imbang hanya akan menguntungkan Korea Selatan yang memiliki produktivitas gol yang lebih baik dari Indonesia. Jika skenario ini yang terjadi, maka Indonesia akan berharap menjadi salah satu tim yang lolos ke babak berikutnya dengan status Runner-Up terbaik.

Teruslah terbang Garuda muda......

0 komentar: