Friday, 25 October 2013

Steven Gerrard is not a top player?

Beberapa hari terakhir ini dunia sepakbola diramaikan dengan berita seorang kakek tua yang baru saja pensiun dari posisi pelatih sebuah klub, sebut saja Ferguson. Dalam sebuah bab dalam buku yang dia anggap sebagai otobiografi, ia mengatakan bahwa Steven Gerrard bukanlah pemain top di dunia sepakbola. Sepertinya otobiografi ferguson memang ia rancang untuk menyerang Liverpool.



Sebagai fans Liverpool, saya tentu sangat menghormati Steven Gerrard. Saya hanya tersenyum ketika membaca beberapa kicauan di twitter yang menyebarkan berita bahwa Ferguson tidak menganggap Steven Gerrard sebagai pemain top di dunia sepakbola. Lantas, kenapa ia dulu pernah mencoba untuk merekrut Gerrard?. Apakah karena Gerrard adalah pemain Liverpool sehingga ia tidak memasukkan Gerrard dalam daftar pemain top versinya sendiri?. Sebagai penikmat sepakbola, saya tidak segan mengatakan bahwa Rooney adalah salah satu striker terbaik dalam satu dekade terakhir. Saya juga tidak memungkiri bahwa Frank Lampard adalah salah satu gelandang terbaik yang juga dimiliki oleh tim nasional Inggris. Jika parameter yang digunakan oleh ferguson dalam menentukan pemain terbaik versinya adalah pemain yang pernah bermain untuk manchester united, maka seharusnya Roy Keane yang jumlah golnya lebih sedikit dari Gerrard seharusnya masuk dalam daftar tersebut.



Steven Gerrard
What they said about Steven Gerrard

Tapi mungkin memang ferguson ditakdirkan untuk memiliki saraf otak yang terkadang konslet dalam beberapa saat. Toh sampai saat ini Gerrard juga tidak begitu menanggapi pernyataan sampah kakek tua itu. Jika saya menjadi Gerrard, maka hanya satu pertanyaan yang saya sampaikan kepada ferguson: Prestasimu sebagai pemain sepakbola apa, fergie?.

Saya bukanlah fans sepakbola yang menganut faham fanatik buta. Dalam sebuah tim, pasti akan ada pemain-pemain yang memang overrated. Di tim lain, bahkan tim rival, bahkan ada pemain yang memang harus saya akui kualitasnya sebagai pemain.

Saya pikir hanya orang yang bodoh yang tidak tahu tentang sepakbola yang kemudian menganggap bahwa Steven Gerrard adalah bukan pemain sepakbola yang berada di top level. Simak beberapa penuturan pemain-pemain sepakbola berikut tentang Steven Gerrard.

" For me, he is one of the best ever. I have always said this, he (Gerrard) will be regarded as one of the greatest midfielders ever when he finishes his career. No doubt." - Thierry Henry 
”Sometimes you have a player like Gerrard. For me, for the last five years Gerrard has been the best player in the world." - Pele
“Is he (Gerrard) the best in the world? He might not get the attention of Messi and Ronaldo but, yes, I think he just might be." - Zinedine Zidane
"For me, in the position he plays, he is one of the very best in the world. for me he is one of the greatest" - Ronaldinho
"Steven Gerrard, who for me is the complete modern player.”  - Kaka'
"The best midfielder I would say is Steven Gerrard. I really rate him as a player and as a man." - Vieira
"Steven Gerrard is undoubtedly a world-class player and I wish he'd played for United." - Garry Neville

Jadi, apa prestasi terbaikmu sebagai pemain sepakbola, fergie?.

Friday, 11 October 2013

Garuda muda, teruslah terbang tinggi.....

Evan DImas

Sebagai penikmat sepakbola, tentu menjadi kebanggan tersendiri ketika menyaksikan perjuangan tim nasional Indonesia berlaga dan menampilkan permainan yang impresif dan meyakinkan. Indra Sjafrie dengan skuat Timnas U-19 yang ia pilih sendiri membuktikan bahwa pemain Indonesia mampu menampilkan permainan bola yang indah.

Melihat Evan Dimas dan kawan-kawan bermain, seakan tidak percaya bahwa mereka mampu bemain sangat impresif. Pada kejuaraan Piala AFF U-19 beberapa pekan yang lalu, mereka membuktikan bahwa mereka bisa juara. Sempat dikalahkan oleh Vietnam di fase grup, Evan Dimas dkk mampu mengalahkan Vietnam di babak Final melalui adu pinalti. Setelah 22 tahun Timnas Indonesia nir-gelar, akhirnya lewat Timnas U-19 kita Juara.

Setelah gelaran Piala AFF U-19, Evan Dimas dkk melanjutkan pembuktiannya di ajang kualifikasi Piala AFC U-19. Berada satu grup dengan Laos, Filipina dan Korea Selatan. Di pertandingan melawan Laos, Evan Dimas dkk berhasil membungkam Laos dengan skor 4-0. Evan DImas tercatat sebagai pemain terbaik di pertandingan tersebut dengan torehan 1 gol dan 2 assist serta satu key pass. Kemenangan dengan skor 4 gol tersebut bukan didapat dengan mudah, Evan Dimas dkk harus meladeni pressing tinggi pemain Laos yang tampil dengan formasi 4-2-3-1. Bahkan striker Laos, Phithack seringkali melakukan tekel terhadap pemain Indonesia. Praktis di babak pertama Indonesia sangat minim kreasi, bahkan shoot on target Laos lebih banyak ketimbang Indonesia. Permainan high pressing Laos memaksa mereka bermain cenderung kasar, hal ini dimanfaatkan denganbaik oleh anak asuh Indra Sjafrie, Gol pertama Indonesia pun bermula dari sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh pemain bertahan Laos. 3 gelandang dan 3 striker Laos melakukan serangan sporadis yang acapkali merepotkan pertahanan Indonesia di babak pertama. Indra Sjafrie membuktyikan kelihaianannya meracik strategi. Menghadapi Laos dengan pressing ketat, Hargianto yang diplot sebagai Defensive Midfielder diganti oleh Paulo Sitanggang yang memiliki kemampuan sebagai box-to-box midfielder. Dengan strategi ini, 3 gelandang Indonesia seringkali bertarung dengan 3 gelandang Laos di daerah pertahanan  Laos. Strategi ini mengakibatkan Laos cenderung bermain keras dalam perebutan bola dan mengakibatkan 2 kartu merah bagi pemain mereka. Tekanan di babak kedua berpindah kepada Laos. Di babak kedua Laos bahkan tidak memiliki satu percobaan pun yang mengarah ke gawang Ravi Murdiyanto. Berbanding terbalik dengan Indonesia yang berhasil melakukan 11 tendangan mengarah ke gawang Laos, dengan 5 diantaranya on goal, dan 3 berbuah gol. Babak kedua menjadi milik Evan DImas dkk.

Laga kedua tadi malam melanjutkan kegemilangan strategi Indra Sjafrie. Filipina yang sejak babak pertama menerapkan skema bertahan total, memaksa anak asuh Indra Sjafrie untuk melakukan tembakan dari luar kotak pinalti lawan. Beberapa kali Indonesia melakukan shooting dari luar kotak pinalti yang memaksa Kiper Filipina menghalau bola. Gol pertama Indonesia tadi malam adalah gol yang sangat indah hasil dari sepakan keras Hargianto yang mengeksekusi tendangan bebas dari luar kotak pinalti setelah sebelumnya Evan Dimas melakukan percobaan pertama yang mengenai mistar gawang. Setelahnya, berkali-kali pemain Indonesia melakukan tendangan dari luar kotak pinalti dikarenakan Filipina menumpuk pemain mereka di area pertahanan mereka. Seringkali kita melihat setidaknya 9 pemain Filipina berada di area final third.  Evan Dimas dkk mampu mengontrol permainan bahkan menguasai ball posession  mencapai 70%. Umpan dari kaki ke kaki para pemain Indonesia diperagakan dengan sangat atraktif dan tenang. Bahkan beberapa kali mereka berani memainkan bola di dalam kotak pinalti lawan. Adalah Yabes Roni Malaifani yang akhirnya menambah gol bagi Indonesia, menggantikan posisi sayap yang sebelumnya diisi Dinan Yahdian Javier, Yabes menusuk dari sisi kiri pertahanan Filipina memanfaatkan umpan Paulo Sitanggang dan membuahkan gol di menit ke 84. Sepakan kerasnya tidak mampu ditahan oleh Kiper Filipina, Vallez Bayan. Toal Indonesia melakukan 37 percobaan ke gawang Filipina dengan 17 diantranya on target. Sedangkan Filipina hanya melakukan 7 percobaan dengan 2 diantaranya on target.

Besok malam, Evan Dimas dkk akan menghadapi Korea Selatan di laga pamungkas kualifikasi Piala AFC 2014. Jika Indonesia ingin lolos ke fase grup Piala AFC 2014, Indonesia harus mengalahkan Korea Selatan. Hasil imbang hanya akan menguntungkan Korea Selatan yang memiliki produktivitas gol yang lebih baik dari Indonesia. Jika skenario ini yang terjadi, maka Indonesia akan berharap menjadi salah satu tim yang lolos ke babak berikutnya dengan status Runner-Up terbaik.

Teruslah terbang Garuda muda......