Thursday, 27 September 2012

Apa yang salah dengan pendidikan Indonesia?


Dua hari terakhir ini kita kembali digemparkan dengan berita tawuran antar pelajar di Jakarta, walaupun tawuran antar pelajar sudah biasa terjadi di beberapa daerah, namun karena ada korban jiwa, maka tawuran menjadi headline di media massa, baik cetak maupun elektronik.

Apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia?. Memang tidak semua pelajar di Indonesia adalah pelaku tawuran antar pelajar, namun jelas ini adalah masalah pendidikan di Indonesia. Beberapa bulan yang lalu, Republika menganugerahkan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi MA, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai salah satu tokoh perubahan Republika 2011. Beliau memaparkan beberapa hal yang saya rasa menjadi salah satu solusi untuk perbaikan pendidikan di Indonesia.

Pesantren menjadi salah satu solusi bagi para orang tua jika tidak ingin anaknya terjerumus kedalam berbagai masalah yang semakin kompleks di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Walaupun tidak berarti bahwa semua anak yang belajar di pesantren maka akan menjadi anak yang lebih baik daripada mereka yang tidak sekolah di pesantren. Tidak ada jaminan disini. Namun setidaknya, anak yang belajar di pesantren akan belajar tentang kemandirian dimana hal ini akan sangat membantu dalam pembangunan karakter seseorang.

Menurut K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi MA, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, pendidikan yang berkualitas adalah yang tidak hanya menekankan pengajaran, nilai akademik atau aspek kognitif saja, akan tetapi bagaimana membangun sikap mental serta watak anak didik, sehingga pada saatnya nanti mereka menjadi manusia yang bermanfaat dan bermartabat, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Di pesantren ada yang namanya jiwa dan filsafat hidup yang berlandaskan nilai-nilai agama. Para santri dibina jiwa keikhlasannya, kesederhanaannya, ukhuwah serta kemandiriannya. Tujuannya agar mencetak pribadi yang hidup dan menghidupi, pejuang yang memperjuangkan, dan yang bergerak dan menggerakkan. Salah satu Filsafat hidup Gontor yang terkenal adalah "Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja". Menurut Kia Syukri, pendidikan itu harus dilatih, diberi tugas, dikawal serta dibiasakan.

Pendidikan karakter membangun kemandirian. Pembentukan karakter itu sendiri harus dengan pengajaran, pengarahan dan penugasan. Di Gontor, tidak peduli santri itu anak pejabat atau hanya anak petani. Jika memang dia ditugaskan untuk membersihkan lantai asrama, maka harus dia kerjakan. Jika memang dia dipandang mampu menjadi pemimpin organisasi, maka dia yang akan diamanahkan menjadi pemimpin.

Gontor sendiri adalah pelopor pesantren modern di Indonesia, tidak dipungkiri fasilitas yang dimiliki oleh Gontor untuk membangun karakter kepribadian santri sangat mendukung. Namun sekali lagi, tidak ada jaminan bahwa alumni Gontor lebih baik dari mereka yang bukan alumni Gontor, tergantung bagaimana ia mengambil kunci-kunci yang ada di Gontor itu sendiri.

Indonesia harus merasa berhutang kepada Gontor suatu saat nanti, di pesantren inilah dididik tokoh-tokoh nasional sekaliber Hidayat Nur Wahid, Din Syamsudin, Hasyim Muzadi, Lukman Saefudin dll. Namun, bagi Gontor, diakui atau tidak oleh Indonesia, itu bukan sebuah permasalahan, bukan sebuah hambatan, biarkan semua mengalir apa adanya, Gontor akan terus mencetak kader ummat.

Adakah sekolah umum dibawah kementerian pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia yang memiliki sistem pendidikan yang nyata untuk membangun karakter pelajar?. Sistem yang bukan hanya sebuah teks atau naskah, namun dilakukan dengan aplikasi nyata dalam pembelajaran sehari-hari?. Saya yakin masih ada, meskipun sekolah itu mungkin tidak terekspos atau ketlingsut.

Pesantren bukan satu-satunya tempat belajar untuk membangun karakter atau pribadi yang mulia, ada banyak sekolah alam di Indonesia yang berani mengambil jalur independen, tidak mengikuti sistem pendidikan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, ada Kandank Jurank Doank di Jakarta, ada Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta dan saya yakin masih ada sekolah-sekolah lain yang mampu membangun karakter anak-anak Indonesia.

Tawuran hanyalah salah satu problematika dunia pendidikan di Indonesia, masih ada banyak lagi problem pendidikan yang harus segera dicarikan solusinya. Namun jika tidak segera diatasi, maka tawuran akan selalu menjadi problem dunia pendidikan Indonesia di masa-masa yang akan datang yang tidak akan ada akhirnya.


0 komentar: