Tuesday, 4 December 2012

Bangsa Spesial

      Sejarah menceritakan kepada kita bahwa selama 3,5 abad Belanda menjajah tanah Nusantara ini. Merampok hasil bumi Nusantara. Mereka bangun negara mereka dangan hasil bumi Nusantara. Namun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta pada 195, Belanda pun tidak benar-benar melepaskan cengkramannya, dan sekarang, kita pun secara sadar merasakan bahwa bangsa barat masih menjajah Indonesia, meskipun bukan dalam konteks penjajahan dengan mengerahkan kekuatan militer.

       Jauh sebelum itu, Nusantara pernah merasakan kejayaan era Sriwijaya dan Majapahit yang begitu berkuasa, konon wilayah kekuasaan Majapahit menjangkau hingga Madagaskar. Salah satu peninggalan Patih Gajah Mada yang sangat fenomenal adalah Sumpah Palapa. Dengan lantang ia bersumpah, bahwa sebelum Nusantara berhasil disatukan, ia tidak akan menikmati kenikmatan duniawi. Analisis saya terhadap sumpah palapa Patih Gajah Mada adalah ; betapa kaya raya Nusantara ini, bukan hanya kekayaan alam tapi juga kebudayaan, sehingga Patih Gajah Mada berusaha unutk menyatukan Nusantara, bukan unutk merampok hasil kekayaan, justru Patih Gajah Mada ingin Nusantara ini kuat, bukan untuk menjajah bangsa lain, namun untuk mengayomi bangsa lain.

       Kesalahan fatal manusia Indonesia, salah satunya adalah karena tidak setia dengan kata-kata. Sepele, namun fatal. Satu contoh, Ratu. Kebanyakan dari kita mengartikan Ratu adalah sosok wanita sebagai pendamping Raja. Kemudian diaplikasikan dalam kehidupan, bahwa kekuasaan Ratu berada dibawah kekuasaan Raja. Padahal, Ratu sejatinya adalah pemimpin itu sendiri, maka di Jawa dalam sebuah Kerajaan dikenal istilah Keraton. Dalam bahasa Jawa Raja adalah Ratu itu sendiri, entah siapa yang pertama kali mengajarkan kepada kita bahwa Ratu adalah sosok wanita, sedangkan Raja adalah sosok pria. Imbasnya, pemahaman tentang kepemimpinan di Indonesia ini ditafsirkan sebagai wadah untuk menguasai kekayaan yang ada di Indonesia. Ketidak setiaan orang Indonesia terhadap kata diperparah dengan penggunaan kata-kata yang tidak pantas pada tempatnya. Lihatlah nama-nama top level digunakan untuk nama grup musik. Raja, Ratu, Dewa, Dewi, Mahadewi, Wali, bahkan sekarang sudah ada band yang menggunakan nama Jibril. Lama-lama akan ada warung lesehan dengan menu tempe penyet Izrail. Bisa dibayangkan tingkat kepedasan sambalnya.

       Modus korupsi di Indonesia pun semakin religius. Kalaulah beberapa waktu yang lalu, ada yang menggunakan istilah apel malang dan apel washington, pada korupsi di departemen yang lain menggunakan padanan kata yang lebih dahsyat. “Tolong yang 10% disisihkan untuk pak Kyai, 10% lagi disisihkan untuk Pondok Pesantren. Atau kalau perlu, nanti kita tahlilan di Hotel X.” Inilah hebatnya koruptor di Indonesia, Tuhan saja berani mereka tipu. Statuta FIFA ditakuti, tapi Statuta Tuhan dengan gampangnya dilanggar. Konon, akibat ulah koruptor di Indonesia, iblis mengajukan permohonan pensiun dini kepada Tuhan.

        Tapi, sebuah fakta tidak terbantahkan; kelemahan rakyat Indonesia adalah kekuatan mereka. Dengan sekian banyak pengalaman penindasan yang sudah dialami rakyat Indonesia, justru hal tersebut melahirkan sebuah genetika manusia yang memiliki mental yang sangat tangguh. Ditempeleng, dicuri, dirampas, dirampok, ditipu, dibohongi tapi rakyat Indonesia memiliki ketahanan yang luar biasa. Bangsa barat tidak akan mampu mengalami apa yang dialami rakyat Indonesia saat ini, bahkan negara-negara timur tengah menjadikan rakyat Indonesia referensi teratas dalam proses pembangunan bangsa mereka paska Arab Spring yang mereka alami. Kekuatan manusia Indonesia adalah ketangguhan mental yang luar biasa, namun justru kekuatan ini yang menjadi kelemahan rakyat Indonesia. Para penguasa semakin nikmat merampok, bertindak semena-mena, bahkan mempersilahkan bangsa asing mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia meskipun dengan hitungan bagi hasil yang merugikan. Tapi ada sebuah pesan yang tersirat; “Jangan sekali-sekali menindas manusia Indonesia, karena yang menindas yang akan kalah”. Ilmu Katuranggan manusia Indonesia adalah Tanah. Semakin diinjak, semakin kuat. Setiap tahun rakyat Indonesia rela membayar pajak  tanpa menagih dari apa yang mereka sudah bayarkan kepada negara. Manusia Indonesia adalah manusia hibrida. Entah manusia yang terbuat dari campuran gen apa saja yang berada dalam tubuh manusia Indonesia. Semakin menderita, justru semakin mampu menikmati penderitaan. Ekonomi global diguncang krisis, tapi manusia Indonesia tidak perduli, bahkan tidak merasakan sedikitpun imbasnya. Mereka tetap fokus menjalani kehidupan mereka masing-masing, tetap berusaha agar dapur mereka tetap ngebul.

       Lihatlah mereka dipojok sebuah pasar, dipinggir jalan, diwarung-warung. Mereka tetap menikmati hidup, tertawa riang, ketangguhan yang luar biasa. Kalaupun mereka merasakan sebuah kesedihan, dalam kurun waktu yang singkat, kesedihan mereka rubah dengan formula mereka sendiri menjadi sebuah kebahagiaan. Beras mahal, mereka ciptakan makanan pokok pengganti yang tidak kalah bergizi dari beras. Bahan bakar alternatif bermunculan ditengah ketakutan global akan menipisnya cadangan minyak bumi, kendaraan bermotor yang menurut peraturan negara pembuatnya sudah tidak layak pakai justru semakin dimanfaatkan demi berputarnya roda ekonomi. Limbah potongan kayu mampu disulap menjadi mainan anak. Bahan sederhana mereka olah menjadi souvenir pernikahan yang menarik. Dunia kuliner berkembang begitu pesatnya. Dan masih banyak lagi kreatifitas manusia Indonesia yang diaplikasikan untuk bertahan hidup. Manusia Indonesia ketika ia jatuh, ia memiliki semangat untuk kembali bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi. Mereka tidak mengenal kata “trauma”. Ketika mengalami sebuah musibah, mereka tidak mengeluh, tidak jarang mereka tetap bersyukur ketika jatuh tersandung saat berjalan, “alhamdulillah, cuma lecet sedikit”, bahkan tidak jarang yang sambil mengumpat ketika jatuh terpleset, “jancuk,, untung nggak patah sikilku”. Ketika mengalami musibah sekalipun, manusia hibrida ini masih mampu bersyukur, meskipun dengan dialektika yang sedikit radikal. Bagaimana mungkin manusia tangguh seperti rakyat Indonesia ini merasakan penderitaan?. Manusia Indonesia adalah manusia yang sangat disegani dan ditakuti oleh bangsa barat. Yang bisa ditipu oleh barat adalah Pemerintah Indonesia, bukan rakyatnya.

       Sejarah tinggal sejarah. Hanya dimaknai sebagai tulisan kenangan saja. Indonesia saat ini bagaikan Majapahit tanpa Patih Gajah Mada. Indonesia saat ini memiliki sosok Hayam Wuruk, tapi tidak memiliki sosok Patih Gajah Mada. Harapan kita adalah, 2 tahun lagi, Patih Gajah Mada yang sangat dibanggakan oleh Majapahit ini benar-benar akan muncul di bumi Nusantara ini. Insya Allah.

Thursday, 22 November 2012

Sampai kapan?


Beberapa hari terakhir dunia kembali disibukkan dengan agresi Israel di jalur gaza. Baik yang pro maupun yang kontra. Dari berbagai sumber media mengatakan bahwa militan Hammas yang pertama kali memulai, setelahnya puluhan ribu pasukan Israel dikerahkan, setelah memakan korban jiwa yang banyak, terutama warga sipil yang masih balita, disepakatilah gencatan senjata, Hammas bersorak, mengklaim kemenangan atas Israel kali ini.

Apa yang sebenarnya terjadi dibelakang konflik Israel-Palestina yang tidak kunjung selesai ini, setiap terjadi agresi militer, dalam hitungan hari disepakati gencatan senjata, jeda beberapa tahun, terjadi lagi, benarkah ini konflik aqidah semata?

Fakta bahwa tidak semua penduduk palestina beragama islam tidak banyak yang menyadari, begitu Palestina bergejolak, sontak mayoritas muslim yang melancarkan protes, demonstrasi, menyalurkan bantuan dan lain sebagainya. Hormat saya kepada anda-anda yang berjuang dengan apa yang anda miliki, entah berupa rupiah yang didonasikan, demonstrasi di beberapa titik kota besar. Tidak penting demonya ke siapa, unjuk rasa ditujukan kepada siapa, yang terpenting adalah bahwa niatnya adalah membela hamba-hamba Allah dari kedhzaliman yang sedang terjadi serta menjaga rahmatan lil ‘alamin-nya Islam. Insya Allah, apa yang anda-anda lakukan adalah investasi untuk anak-cucu dimasa yang akan datang, bukan hanya untuk Palestina saat ini.

Apa yang terjadi di Gaza bukanlah pertandingan, melainkan pembantaian. Entah siapa yang memanfaatkan kekuatan yang sebenarnya, apakah Israel memanfaatkan status quo Negara adidaya Amerika, atau Amerika menjadikan Israel boneka di timur tengah untuk memancing Iran keluar dari kandangnya?. Karena duel yang sesungguhnya adalah Amerika versus Iran, dan entah kapan duel yang sebenarnya ini akan berlangsung. Dilebarkan lagi, ada kabar bahwa pemasok persenjataan Hammas adalah Iran sehingga Amerika pun tidak mau kalah dengan memasok persenjataan Israel. Kemudian dilebarkan lagi konflik Sunni-Syi’ah, ada yang menganggap bahwa Iran adalah Negara Syi’ah dimana Syi’ah sudah dianggap sebagai aliran sesat dimana-mana, lantas negara-negara Islam bersepakat bawha Iran harus dilawan karena Syi’ah-nya, amerika dengan mudahnya menunggangi konflik internal Islam bertajuk Sunni-Syi’ah untuk melawan Iran.

Kalaulah memang yang terjadi di Gaza adalah perang agama, agama mana yang berperang? Yahudi melawan Islam? Lantas bagaimana dengan orang Yahudi yang beragama Islam dan orang Yahudi yang tidak beragama Yahudi? Benarkah bahwa Israel adalah representasi dari Agama dan Ras Yahudi?.

Konspirasi Global. Ada segelintir orang yang mengatakan bahwa ini konspirasi global, dimana pelakunya sendiri tidak menyadari bahwa dia menjadi bagian dari konspirasi tersebut. Mungkin ada diantara anda sekalian yang mendalami teori konspirasi bisa membuat tulisan yang berbeda.

Saya sendiri masih ingat, sekitar tahun 2009 yang lalu ketika Gaza juga bergejolak, broadcast di Yahoo Messenger tersebar dengan pesan utama “boikot produk Yahudi”. Pada titik ini saya tersenyum, karena produk-produk Yahudi sudah hampir menjadi teman akrab kita sehari-hari mulai dari kamar mandi hingga pakaian yang kita pakai. Dimanakah batasan boikot yang dianjurkan itu?. Jama’ah haji setiap tahunnya terbang menggunakan pesawat buatan Yahudi menuju Arab Saudi, belum lagi para Ulama yang harus berkunjung keberbagai daerah menggunakan pesawat yang juga buatan Yahudi, perangkat telekomunikasi yang kita pakai sehari-hari, social media yang kita buka lewat internet setiap hari dan seterusnya silahkan anda tambahkan sendiri. Bahkan ketika isu penghinaan Nabi Muhammad SAW beberapa waktu yang lalu, muncul anjuran memboikot Google dan Youtube selama seminggu dengan tujuan menghancurkan saham Google. Semudah itukah?. Lantas muncul kalimat sinis “Menganjurkan boikot produk Yahudi dengan menggunakan produk buatan Yahudi juga”. Menyebarkan anjuran boikot Google dengan menggunakan fasilitas broadcast message di Blackberry Messenger, atau update status di facebook dengan menggunakan browser Google Chrome yang dijalankan di komputer berprocessor Intel.

Di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta mengeluarkan statemen agar mendesak Obama untuk meminta Israel menghentikan serangan ke Gaza. Presiden SBY yang saat ini diragukan oleh rakyatnya apakah dia presiden beneran atau presiden jadi-jadian, karena kekuasaannya terhadap kepresidenannya hanya 10%, sisanya ada pada istrinya dan ibu mertuanya. Presiden SBY yang dalam 5 tahun terakhir sangat buka-bukaan menjiplak gaya Demokrat versi Obama di Amerika adalah Presiden yang beberapa tahun yang lalu mengatakan bahwa Amerika adalah rumahnya. Maka, Indonesia sebagai Negara dalam konflik Israel-Palestina sebaiknya mengambil status “Abstain” saja. Biarlah rakyat Indonesia yang bergerak, mengumpulkan donasi untuk disumbangkan kepada rakyat Palestina.

Sekali lagi, salam hormat saya kepada anda-anda yang sudah berjuang mengumpulkan donasi diberbagai tempat untuk disalurkan kepada saudara kita di Palestina, Insya Allah itu adalah investasi anda semua dan anak cucu dimasa yang akan datang. Mengutip kalimatnya Cak Nun;  "Minumlah seteguk air yang mengalir ke dalam badan kita diiringi doa oleh kedalaman hati kita. Duduk rileks. Tarik napas panjang. Kita luangkan sedikit waktu untuk menabung pembelajaran tentang itu semua. Pelan-pelan, tidak dengan kemarahan tapi dengan mesin ilmu dan ketenangan batin".

Tuesday, 2 October 2012

Konsep hidup yang paling TOP (versi saya)


Sebelumnya, postingan ini adalah tweet-ku di @FahmiAgustian pada jum'at pagi minggu yang lalu (28/09/2012)

SABAR -> PRASANGKA BAIK -> SYUKUR -> IKHLAS

Yap, sabar adalah level yang paling dasar. Ikhlas adalah Top Level.

SABAR, sering kan kita dinasehati sabar? Biasanya pas lagi marah atau dapat musibah nasihat sabar sering kita dengar. Kalau gak bisa sabar, gak bisa naik ke level prasangka baik. Ketika marah, kemudian mampu untuk bersabar, naik ke level prasangka baik. Berprasangka baik terhadap sesuatu yang membuat kita marah.

BerPRASANGKA BAIK kepada Allah SWT. Karena Allah SWT adalah sesuai prasangka hambanya. Ingat ayat tentang hak manusia untuk merubah nasib?. Di titik mana sebenarnya kita mampu merubah nasib kita?. Free Will??. Tuhan Maha Memberi……………..Titik-titiknya sesuai persangkaan kita. Ketika sakit, kita bersabar dan mampu berprasangka baik kepada Allah SWT, Yang Maha Menyembuhkan. Kalau mengeluh, sakitnya bisa nambah.Ketika sakit, kita mampu berprasangka baik terhadap Allah SWT yang memberi kita sakit, air putih malah mampu jadi obat sakit. Pernah dengar kan tentang teori bentuk kristal air yang menyesuaikan keadaan sekitarnya? Menurutku, teori kristal air itu adalah contoh paling mudah dari prasangka baik kita terhadap sesuatu. Dan teori kristal air tadi, kayanya juga berlaku pada molekul-molekul benda lain. Kayanya lho ya…

Nah naik level lagi ke SYUKUR. Ngucap Alhamdulillah tok? gak sesederhana itu. “Alhamdulillah, hari ini bisa makan.” Cukupkan kalimat syukur sampai disitu, jangan ditambah-tambahi lagi membandingkan dengan hal lain. “Alhamdulillah hari ini ada makanan, banyak orang diluar sana nggak bisa makan.” Kalimat setelah koma, bisa jadi bumerang, turun level deh. Maka ketika bersyukur, ndak usah membandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain. Cukup untuk diri sendiri saja. Jangan tambahin objeknya.

Naik level lagi ke IKHLAS. Iki TOP level. Paling ampuh! Praktek ikhlas yang mudah difahami adalah dari teori beol. Sorry agak jorok. Tapi itu faktanya. Rumus hidup TOP level dicontohkan dengan aktivitas yang jorok. Beol……kenapa? Adakah orang yang menyesal setelah beol? Kemarin makan sate, gurameh atau makanan apapun yang paling enak, besoknya tetep beol, ya gak? Apa ada yang menyesal setelah beol tadi pagi? “diancuk, semalem aku makan steak holycow, nggur dadi tai” ada? Kalau bukan ikhlas, apa itu namanya? Ikhlas itu ya begitu, nggak menyesal, nggak ngeluh, nggak ngresulo dsb. terhadap apapun dalam hidup kita. Anda mau kaya? Syaratnya, anda siap untuk tidak kaya (miskin). Anda mau punya mobil? Syaratnya, anda siap untuk tidak punya mobil. Ikhlas.

Dari Abu Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah saw, Berfirman Allah Yang Maha Agung:

“Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku, dan Aku bersama-nya ke
tika ia menyebut Aku. Bila ia menyebut Aku dalam dirinya, Aku menyebut dia dalam Diri-Ku. Bila ia menyebut Aku dalam khalayak, Aku menyebut dia dalam khalayak yang lebih baik dari itu. Bila ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Bila ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadanya satu depa. Bila ia datang kepada-Ku berjalan kaki, Aku datang kepadanya berlari-lari”. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah, At-Tirmidzi, Ibn Hanbal)

Nah antara syukur dengan ikhlas ada jebakan betmen. Hati-hati. Bersyukur punya uang banyak, lalu mengikhlaskan bersedekah. baik? Nanti dulu, tujuannya melayani diri sendiri atau orang lain? Tentu paling baik ya melayani orang lain. Menurutku lho ya. Kalau sedekah terus berharap kembali berlipat ganda, itu melayani dirinya aja. Kalau sedekahnya bener-bener ikhlas, ya udah gak mau tau setelahnya, akan balik lagi atau nggak, nggak diingat-ingat lagi, apalagi itung-itungan. Jangan berniaga dengan Allah SWT. Itu kuncinya.

Ketika sudah mencapai ikhlas, eh tau-tau kena jebakan betmen tadi, turun level lagi deh. Mending kalau cuma satu level. Kalau sampai terjun? kalau terjun bebas, ya mulai lagi dari awal. Sabar»Prasangka baik»Syukur»Ikhlas. Berat mulainya lagi…. Lha untungnya, kita dikasih tau shortcut lain ama Kanjeng Nabi Muhammad SAW. itu bernama “doa minta diampuni dosa”. Ketika kena jebakan betmen kaya tadi, langsung minta ampunan sama Allah, jadi turun levelnya gak drastis. Apapun saja, kita melayani diri sendiri atau orang lain. Manusia kalau udah di level ikhlas, dunia gak ada apa-apanya. Enteng, gak tergoda. Tapi aku dhewe yo durung iso. Hehehehe. Jeh sinau okeh…. Masih harus belajar buanyak banget...

Manusia yang TOP Level, ya manusia ikhlas. Kalau udah ikhlas, ia mampu sabar, mampu berprasangka baik, mampu bersyukur, TOP Level! Allah SWT selalu ada di setiap kehidupan kita. Apapun, kapanpun, dimanapun. Jadi teoriku, berprasangka baik aja lah terhadap semua hal. Karena Allah SWT ada dibalik semua yang terjadi di dunia ini. Kalau gak berprasangka baik maka akan berat untuk bersyukur apalagi ikhlas…belum bisa syukur dan ikhlas, paling nggak udah mampu bersabar dan berprasangka baik. Opo wae lah, sabar»prasangka baik»syukur»ikhlas. Tenang hidupnya. Gak ada lagi yang dikejar-kejar… Emang sabar cuma pas dapet musibah? Pas marah? Myatane! Dapat nikmat dan anugerah yo kudu tetep sabar…Rumangsane…

Ini hanya penjabaran dari keyword-keyword yang diinfokan mas sabarang, jadi penjabaran ini bisa saja berbeda dengan penjabaran versi sampeyan.
 
Makasih buat mas Sabrang (@noegeese) yang udah ngasih keyword-keyword untuk postingan ini, makasih juga buat  @puputrusian yang udah ngrekap tweetku di tumblrnya dia...

Thursday, 27 September 2012

Apa yang salah dengan pendidikan Indonesia?


Dua hari terakhir ini kita kembali digemparkan dengan berita tawuran antar pelajar di Jakarta, walaupun tawuran antar pelajar sudah biasa terjadi di beberapa daerah, namun karena ada korban jiwa, maka tawuran menjadi headline di media massa, baik cetak maupun elektronik.

Apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia?. Memang tidak semua pelajar di Indonesia adalah pelaku tawuran antar pelajar, namun jelas ini adalah masalah pendidikan di Indonesia. Beberapa bulan yang lalu, Republika menganugerahkan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi MA, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai salah satu tokoh perubahan Republika 2011. Beliau memaparkan beberapa hal yang saya rasa menjadi salah satu solusi untuk perbaikan pendidikan di Indonesia.

Pesantren menjadi salah satu solusi bagi para orang tua jika tidak ingin anaknya terjerumus kedalam berbagai masalah yang semakin kompleks di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Walaupun tidak berarti bahwa semua anak yang belajar di pesantren maka akan menjadi anak yang lebih baik daripada mereka yang tidak sekolah di pesantren. Tidak ada jaminan disini. Namun setidaknya, anak yang belajar di pesantren akan belajar tentang kemandirian dimana hal ini akan sangat membantu dalam pembangunan karakter seseorang.

Menurut K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi MA, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, pendidikan yang berkualitas adalah yang tidak hanya menekankan pengajaran, nilai akademik atau aspek kognitif saja, akan tetapi bagaimana membangun sikap mental serta watak anak didik, sehingga pada saatnya nanti mereka menjadi manusia yang bermanfaat dan bermartabat, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Di pesantren ada yang namanya jiwa dan filsafat hidup yang berlandaskan nilai-nilai agama. Para santri dibina jiwa keikhlasannya, kesederhanaannya, ukhuwah serta kemandiriannya. Tujuannya agar mencetak pribadi yang hidup dan menghidupi, pejuang yang memperjuangkan, dan yang bergerak dan menggerakkan. Salah satu Filsafat hidup Gontor yang terkenal adalah "Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja". Menurut Kia Syukri, pendidikan itu harus dilatih, diberi tugas, dikawal serta dibiasakan.

Pendidikan karakter membangun kemandirian. Pembentukan karakter itu sendiri harus dengan pengajaran, pengarahan dan penugasan. Di Gontor, tidak peduli santri itu anak pejabat atau hanya anak petani. Jika memang dia ditugaskan untuk membersihkan lantai asrama, maka harus dia kerjakan. Jika memang dia dipandang mampu menjadi pemimpin organisasi, maka dia yang akan diamanahkan menjadi pemimpin.

Gontor sendiri adalah pelopor pesantren modern di Indonesia, tidak dipungkiri fasilitas yang dimiliki oleh Gontor untuk membangun karakter kepribadian santri sangat mendukung. Namun sekali lagi, tidak ada jaminan bahwa alumni Gontor lebih baik dari mereka yang bukan alumni Gontor, tergantung bagaimana ia mengambil kunci-kunci yang ada di Gontor itu sendiri.

Indonesia harus merasa berhutang kepada Gontor suatu saat nanti, di pesantren inilah dididik tokoh-tokoh nasional sekaliber Hidayat Nur Wahid, Din Syamsudin, Hasyim Muzadi, Lukman Saefudin dll. Namun, bagi Gontor, diakui atau tidak oleh Indonesia, itu bukan sebuah permasalahan, bukan sebuah hambatan, biarkan semua mengalir apa adanya, Gontor akan terus mencetak kader ummat.

Adakah sekolah umum dibawah kementerian pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia yang memiliki sistem pendidikan yang nyata untuk membangun karakter pelajar?. Sistem yang bukan hanya sebuah teks atau naskah, namun dilakukan dengan aplikasi nyata dalam pembelajaran sehari-hari?. Saya yakin masih ada, meskipun sekolah itu mungkin tidak terekspos atau ketlingsut.

Pesantren bukan satu-satunya tempat belajar untuk membangun karakter atau pribadi yang mulia, ada banyak sekolah alam di Indonesia yang berani mengambil jalur independen, tidak mengikuti sistem pendidikan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, ada Kandank Jurank Doank di Jakarta, ada Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta dan saya yakin masih ada sekolah-sekolah lain yang mampu membangun karakter anak-anak Indonesia.

Tawuran hanyalah salah satu problematika dunia pendidikan di Indonesia, masih ada banyak lagi problem pendidikan yang harus segera dicarikan solusinya. Namun jika tidak segera diatasi, maka tawuran akan selalu menjadi problem dunia pendidikan Indonesia di masa-masa yang akan datang yang tidak akan ada akhirnya.


Tuesday, 25 September 2012

Mencoba menangkap pesan dari "Rayya".


Kenduri Cinta edisi November 2011 yang mengenalkanku kepada Rayya. Yup, dari forum Maiyah Jakarta itulah pertama kali aku mengetahui bahwa akan segera dirilis sebuah film dimana seorang Emha Ainun Nadjib bersedia menulis skenarionya bersma Viva Westi. Setelah sekian bulan, akhirnya 20 September 2012, film ini resmi dirilis di bioskop-bioskop ternama di kota-kota besar Indonesia.

Bagi jama'ah maiyah, sebagian besar dialog-dialog yang "berat" sebenarnya sudah berkali-kali disampaikan oleh Cak Nun di beberapa forum Maiyah, sehingga film ini akan sangat familiar bagi jama'ah maiyah. Tidak bisa dipungkiri, sentuhan Cak Nun di film ini sangat kental, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi yang rindu dengan karya-karya beliau, jika sebelumnya kita hanya mengenal Cak Nun lewat tulisan, puisi, cerpen, lagu, kini beliau hadir dalam sebuah film, Rayya - Cahaya diatas cahaya.

Semua yang terlibat di film bergenre Road Movie ini saling melengkapi satu sama lain, kebesaran nama Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo melengkapi sentuhan duet scripwriter Cak Nun - Viva Westi juga duet produser Dewi Umaya - Sabrang Mowo Dhamar Panuluh, pengambilan gambar dengan latar belakang keindahan panorama Indonesia, pemilihan para pemeran tambahan yang sangat natural, kehadiran aktor senior Christine Hakim, sampai sosok nyata seorang Slamet, membuat film ini menjadi gambaran realita kehidupan Indonesia saat ini.

Sosok Rayya, seorang artis papan atas, bergelimang harta, dengan sifat angkuh, pemarah, egois memang begitu mewakili gambaran nyata kehidupan seorang selebritis ternama di Indonesia, berbanding terbalik dengan sosok Arya, photografer gaek yang setia dengan kamera analog, bukan orang terkenal, hanya orang biasa yang ketlingsut dibawah cahaya-cahaya ketenaran. 

Rayya tidak cocok dengan sosok Kemal, photografer modern, memiliki sifat yang hampir sama dengan Rayya, ibarat minyak bertemu air, tidak bisa menyatu. Salah satu obat marah adalah air, jika Rayya adalah "marah", maka "air"ny adalah Arya. Sosok Arya sangat mampu mengimbangi Rayya, dari awal pertemuan kedua tokoh ini sangat terlihat jelas teknik bagaimana menaklukan orang yang mudah marah.

Begitu banyak kritik sosial yang disampaikan dalam film ini. Penolakan uang kembalian seorang penjual kerak nasi sangat menohok, baik bagi para penjual maupun para pembeli, bahwa sesungguhnya, martabat seorang penjual pun harus tetap dijaga oleh penjual itu sendiri, justru martabat itu seakan menjadi hancur ketika ia menerima uang kembalian yang lebih, pelajaran bagi pembeli, adalah menghormati martabat seorang penjual, dengan cara membeli barang yang dijual sesuai dengan harga yang ditawarkan.

Wahai dunia, aku mencintai gemerlap keindahanmu. Tapi kau bukan pengantinku, dan aku bukan pengantinmu, aku tak bisa kawin denganmu.

Sosok Budhe, orang yang memiliki masalah pendengaran, bersedia mendidik anak-anak yang terpinggirkan di SALAM, dididik dengan kurikulum kehidupan, mengajari anak-anak kecil untuk menanam tumbuhan, mendidik anak-anak untuk tetap mencintai alam. Slamet, sosok nyata yang juga mewakili kritik sosial kita terhadap orang yang kita anggap gila. Yang dimiliki oleh slamet hanyalah senyuman, kepada siapapun yang ia lihat, ia tersenyum dan melambaikan tangan, mayoritas dari kita jika bertemu dengan orang yang gila atau tidak waras, maka kita akan menjauhinya, karena kotor, bau dsb. Jangankan untuk bersalaman, untuk mendekati saja kita enggan. Cak Nun sendiri juga pernah membuat tulisan tentang orang gila, "Kekasihku Orang Gila" (diterbitkan di Buletin Mocopat Syafaat edisi September 2011),  tapi tanpa kita sadari, merekalah orang yang tidak akan dihisab di hari akhir nanti, bisa jadi merekalah yang lebih dulu masuk surganya Allah daripada kita. Ibu-ibu pemecah batu, menampar kita, bahwa hidup harus terus kita lalui, sesulit apapun hidup ini, kita bisa membayangkan, hanya berpa rupiah yang merek dapatkan dari upah memecah batu?, apalagi saat ini sudah ditemukn mesin pemecah batu. Mereka tetap menjalani hidup yang semakin sulit. Fanny, gadis pekerja pabrik rokok, kecantikan alami gadis desa yang sangat natural, menampar dengan pesan, bahwa artis-artis ternama itulah yang kalah dengan dia, karena dia yang cantiknya tidak kalah dengan kecantikan para artis itu justru berani menjadi seorang pekerja di pabrik rokok. Gambran glamornya para artis pun kembali ditempeleng dengan adegan Rayya yang hendak membeli kembali bajunya yang hilang, baju yang ia beli dengan harga jutaan, justru menjadi bahan sindiran oleh seorang penjual ikan, jangankan 1 juta, sepuluh juta pun tidak akan ia jual. Betapa ini adalah juga tamparan keras bagi kita ditengah fenomena yang sulit diterima dengan akal sehat, baju, tas, dan barang-barang yang secara fisik sederhana, namun berharga puluhan juta, dan anehnya menjadi barang yang dipamerkan oleh mereka yang mengaku "orang kaya".

Film ini bukn film religi, namun kaya dengan pesan agama. Film ini film percintaan, namun untuk menyatakan rasa cinta disajikan adegan yang sangat indah. Tidak ada kata "I Love You" antara Rayya dengan Arya, namun justru disitulah letak indahnya.

Entah apa pesan yang ingin disampaikan oleh Cak Nun di film ini, sosok Arya yang sangat sabar, mampu menahan amarah, bahkan tidak dendam disaat ia mendapati fakta istriny selingkuh. Dan juga sosok-sosok lain di film ini, semuanya memberi pesan masing-masing kepada kita yang menonton film ini.

Film ini adalah pelepas rindu dan dahaga akan karya Emha Ainun Nadjib, tanpa mengesampingkan kontribusi orang-orang MAM picture dan PickLock, sentuhan Emha Ainun Nadjib-lah yang memberi warna tersendiri di film ini. Terima kasih Cak Nun, seperti yang sampeyan bilang, skenario film ini tidak akan selesai, maka dari itu, ayo Cak, bikin (film) lagi!!!!.

Terima kasih mbak Viva Westi, Mbak Dewi Umaya, Mas Sabrang, dan semua yang terlibat di film ini. Standing appaluse untuk semuanya!