Wednesday, 21 December 2011

Berani Jujur, Hebat!!!

PUKAT FH UGM mengadakan sebuah acara bertajuk tembang anti korupsi di UC UGM tanggal 18 Desember 2011 kemarin, Mas Zainal Arifin Muchtar direktur PUKAT memang sudah berencana mengundang Cak Nun dan Kiai Kanjeng karena dianggap sebagai sosok yang mampu membangun dan memandu suasana dialog dan diskusi dengan masyarakat luas dalam nuansa yang cerdas dan memikat serta penuh kehangatan, sehingga harapannya adalah, terbentuknya pemahaman Anti Korupsi yang kokoh dalam fikiran masyarakat. Selain Cak Nun sendiri, hadir pula Pak Mahfud MD, Pak Busyro Muqoddas, Budi Santoso dari OMBUDSMAN, Sahlan Said, mantan hakim Jogja dan beberapa narasumber lain. Buya Syafii dan Bambang Widjoyanto yang awalnya sudah dikonfirmasi akan hadir, ternyata berhalangan hadir. Namun, hal tersebut tidak mengurangi daya tarik diskusi malam itu.

Kiai kanjeng mengawali acara tersebut dengan nomor-nomor Wild World-Ojo Lamis, Kalimah, Sailing-Sholatullah. Dan para hadirin semakin antusias dan yang hadir juga semakin banyak, menjelang dimulainya acara inti, Kiai kanjeng membawakan lagu Gundul Pacul yang sudha diaransemen ulang oleh Kiai Kanjeng, nomor ini dibawakan untuk menandai masa transisi dari nomor-nomor sebelumnya yang "luar negeri" menuju kearifan dn filososfi negeri Indonesia. gagasan utama acara ini adalh agar seluruh lapisan masyarakat tetap menyalakan semangat pemberantasan terhadap korupsi yang merupakan sudah menjadi penyakit yang sangat akut dan krusial dalam neagara dan pemerintahan NKRI.

Ketika pembiacara sudah masuk di dalam ruangan, Kiai Kanjeng menyambut mereka dengan nomor Rampak Osing, lagu yang memberikan pesan yang sangat dalam, "Arep golek opo, arep golek opo kok jegal-jegalan?, Arep ngudak opo, arep ngudak opo kok uber-uberan?", mau nyari apa kok saling jegal, mau ngejar apa,, kok saling uber. Atau yang lebih kontekstual, mau cari apa di dunia ini, kok sampai korupsi segala?.

Cak Nun kemudian mulai memandu acara, mengatur acara dan kemudian mengajak semua yang hadir agar menyatukan hati, bahwa seburuk apapun kondisi Indonesia saat ini, sebobrok apapun pemerintahan yang ada saat ini, kita harus yakin bahwa Indonesia akan berubah menjadi lebih baik. Dengan iringan Kiai Kanjeng, semua hadirin berdiri menyanyikan Indonesia Raya.

Cak Nun kemudian mendoakan, agar apa yang dihajatkan oleh Mas Zainal dari PUKAT malam ini dikabulakan Allah swt. Perlu diketahui, Mas Zainal Arifin Muchtar ini adalah Putra asal Pambusuan Polewali Mandar Sulawesi Barat, daerah tersebut adalah salah satu titik historis sejarah sosial Cak Nun dan Jama'ah Maiyah dalam berdakwah. Kemudian Cak Nun menata acara dan mengucapkan sebuah statement awal, "Jam-jam segini adalah waktu peak time untuk media massa, sehingga saya bacakan urutan pembicaranya, sedangkan giliran saya nanti saja jam 23-an ketika peak time tersebut sudah lewat, sehingga apa yang saya omongkan tidak perlu dimuat di media massa". Kemudian satu persatu parea pembicara diperkenalkan oleh Cak Nun, dimulai dengan memperkanalkan Pak Mahfud MD, diselingi dengan guyonan khas Cak Nun yang mesra kepada Pak Mahfud.

Kemudian Pak Mahfud diberikan waktu untuk memberikan sedikin opening statmentnya. Menurut beliau, Korupsi adalah musuh kita bersama. Tujuan utama dari Reformasi 1998 adalah pemberantasan korupsi. Namun yang terjadi saat ini, proses pemberantasan korupsi berjalan sangat lambat, sehingga akhirnya masyarakat menjadi imun, sekarang masyarakat sudah tidak kaget lagi ketika mendengar korupsi dengan nominal puluhan juta, bahkan milyaran, karen saking banyaknya kasus korupsi. Korupsi sudah pasti menghancurkan kita. Di sisi lain, KPK masih memberikan hukuman yang sangat ringan, sekian banyak yang dikorupsi, terdakwa hanya dihukum dengan hukuman yang sangat pendek. Permasalahan penegakkan korupsi menjadi sangat sulit, karena para penegak hukum itu sendiri menjadi bagian dari korupsi yang terjadi di negara ini.Sekarang, gratifikiasi bukan berbentuk uang saja, tapi juga dalam bentuk cinta asmara, Pak Mahfud menyindir kisah asamara Angelina Sondakh dengan seorang penyidik KPK.

Kemudian, Cak Nun mengatakan, bahwa kalau kita bisa tersambung secara hati seperti ini, maka pori-pori zaman akan lebih terbuka, sehingga ide-ide mengenai pemberantasan korupsi mendapatkan gumpalan kekuatan dan dukungan dari masyarakat luas. Cak Nun juga menanggapi masalah imun-nya masayarakat terhadap kasus korupsi saat ini, menurut Cak Nun, pelaku korupsi justru sudah merasakan titik kesenangan melakukan korupsi, karena para koruptor bisa melakukan Umroh dengan uang korupsi, mereka pikir bisa melakukan "Money Laundrying" dengan melaksanakan Ibadah Umroh.

Kemudian Pak Suparman Marzuki bercerita tentang mimpi dimasa lalu bersama Cak Nun tentang masa depan Indonesia, dilanjutkan oleh Mas Zainal menyampaikan bahwa problem korupsi terletak pada dua ranah, yaitu ranah kemampuan dan ranah kemauan. Mas Zainal mengajak para hadirin untuk menyatukan terlebih dahulu antara pikiran dan tindakan kita. Jangan kita lantang berteriak berantas korupsi, dalam praktik sehari-hari kita melakukan kkorupsi kecil-kecilan seperti menyuap petugas pembuta SIM dan lain sebagainya. Menurut Mas Zainal, para pemimpin di Indonesia saat ini tidak meiliki kemampuan, sayangnya kemudian menyerahan urusan ini kepada para politisi. Kemudian Romo S.T Sunardi dari Universitas Sanata Dharma dipersilahkan Cak Nun untuk menyampaikan sesuatu, beliau menyampaikan usulan, agar KPK membuat sarana media berupa koran atau TV korupsi, sebab saat ini masyarakat luas lebih mengandalakna dua media tersebut dalam mendapatkan informasi. Kemudian Cak Nun menanggapi usulan tersebut dengan mengatakan "Bagus sekali idenya, Nanti koran atau TVnya dibiayai dari uang korupsinya para koruptor, dengan catatan, pembiyaan tersebut tidak mengganggu proses pengadilan teradap para koruptor. Artinya, pengadilan tetap jalan terus".

Cak Nun mengatakan, bahwa Jihad pemberantasan korupsi ini terbagi dalam dua jenis, yaitu Ijtihad pemberantasan korupsi dan Mujahadah pemberantasan korupsi. Yang termasuk dalam kategori Ijtihad adalah para akdemisi, kemudian Kiai Kanjeng membawakan nomor medely nusantara, yang berisi lagu-lagu nusantara, yang diselipi lagu Heal the world dan Imagine.

Kemudian Cak Nun mempersilahkan sahabat lamanya ketika di SMA Muh 1 Jogja, Pak Busyro Muqoddas untuk berbicara didepan para hadirin. Seperti di acara Dialog Kebudayaan di Taman Siswo 2 minggu lalu, Pak Busyro mengawalinya dengan menggojlok Cak Nun, bercerita tentang cerita masa lalu di SMA, sehingga susanan pun menjadi semakin gerr dan hangat. PakBusyro mengatakan, bahwa setidaknya ada 56.000 kasus korupsi yang sudah dilaporkan kepada KPK. Beliau menyampaikan, kasus sebanyak itu tidak mungkin diselesaikan dalam waktu yang singkat, sedangkan personel dari kejaksaan dan kepolisiam tidak sebanding dengan jumlah kasus yang akan dituntaskan. Dari sekian kasus tersebut, KPK baru saja menyelamatkan uang negara dari sektor migas sebesar 156 trilyun rupiah yang sempat berada di luar negeri. Menurut beliau, ada jenis korupsi yang disebut corruption by decission, yaitu korupsi yang dilakukan berdasarkan keputusan dan keputusan tersebut didukung dengan planing/perencanaan yang rapi. Di tingkat masyarakat, permisivisme terhadap korupsi juga sangat marak. Belum lagi kalau bicara korupsi dalam bentuk mark up anggaran suatu pembelanjaan. Yang perlu digarisbawahi, proses politik pada masa reformasi adalah menghendaki pemberantasan korupsi,  tetapi seiring dengan itu pula, para politisi sendiri pula yang menghancurkan semangat melawan korupsi. Terutama saat proses PILKADA atau PILPRES, dimana masyarakat digiring untuk memilih calon berdasarkan uang yang diterima dari calon. Menurut Pak Busyro, Pemberantasan korupsi ini terkait erat dengan sistem dan kultur politik. Beliau berpessan kepada para mahasiswa, agar sepulang dari acara ini, mereka harus berkontemplasi, agar bentuk-bentuk perlawanan terhadap korupsi tidak dilakukan dengan cara-cara yang melawan hukum dan menciptakan chaos.

Setelah beberapa pembicara, Cak Nun mendapatkan sebuah ilham untuk membentuk sebuah jaringan atau networking yang dipimpin oleh PUKAT, Cak Nun menyarankan agar Mas Zainal mengidentifikasi semua hadirin yang datang dari berbagai kampus di Jogja dan elemen lain, agar bisa bekerjasama dan berkoordinasi, sehingga bila ada sebuah keperluan dalam menyikapi kasus korupsi bisa lebih terorganisir disampaikan kepada PUKAT. Asusminya, berperang tidak boleh hanya mengandalakan komandan batalyon saja, melainkan para prajurit harus lebih siap kapan saja ada tugas.Cak Nun menegaskan, kiranya kita bisa sepakat bahwa kita korupsi atau hanya meu melakukan kejujuran karena ada alasan yang merupakan komprehensi. Artinya ada alasan yang bersifat moral, etik, hukum, agama dan bahkan tasawuf. Pasukan jihad pemberantas korupsi hendaknya berlapis-lapis. Ada yang mengolah as[ek kognitifnya, ada juga yang mengolah aspek lainnya.

Dialog sesi pertama dimulai, salah satu penanya mengungkapkan pertanyaan tentang sistem yang ada saat ini. Kemudian Pak Mahfud mencoba menjelaskan, menurut beliau kalau berbicara sistem ada beberapa sub-nya. Salah satunya adalah segi isi/peraturan. Dari sisi sebenaranya peraturan yang ada sudah sangat mencukupi. Kalau berbicara struktur juga demikian, secara umum sudah OK. Artinya, kalau kita berbicara tentang sistem terus menerus nggak akan ada habisnya. Sebab-sebab korupsi juga sudah kita ketahui bersama. Sekarang waktunya bertindak.

Kemudian Mas Zainal merespon secara keseluruhan, bahwa dirinya berharp, pertemuan malam itu menjadi batu pijakan, sebuah milestone, simpul dan pemantik. Pada intinya, gerakan melawan korupsi ini haruslah berjamaah. Korupsi adalah musuh kita bersama, dan kita harus melawan korupsi secara bersama-sama. Menurut Mas Zainal, sejauh ini pembicaraan tentang pemberantasan korupsi berlangsung dalam tiga pendekatan, institusionalis, behavioral dan strukturalis. Institusionalis artinya perbaikan di institusi-institusi. Behavioral artinya perilaku para pejabat diperbaiki dengan berbagai pendekatan. Sedangkan strukturalis artinya adalah bangunan secara keseluruhan yang diperbaiki, termasuk bangunan budaya.

Menyambung apa yang disampaikan Mas Zainal, Cak Nun mengatakan bahwa kedekatannya dengan Pak Busyro saperti terlihat malam ini, salaing ledek, saling gojlok adalah wujud bahwa secara budaya kita sudah jelas kompak mutlak menolak korupsi. Tinggal pembenahan di beberapa aspek lainnya.

Dialog sesi kedua jumlah penanya lebih banyak, di sesi ini banyak yang memunculkan soliditas kekuatan arus yang lebih luas dalam melawan korupsi, juga usulan tentang hukuman koruptor, ada yang usul agar koruptor ditelanjangi, artinya hukuman yang bersifat sosial juga harus ada. Muncul pula usulan agar KPK lebih sinergis dengan masyarakat luas, semisal aktif memberikan informasi sampai pada tahap mana kasus korupsi sedang ditangani. Ketika ada yang menanyakan tentang kasus Century, Pak Busyro kemudian langsung menanggapinya, bahwa Kasus Century adalah masalah politik, sehingga posisinya sekarang dilimpahkan kepada POLRI dan sudah diproses. wewenang KPK hanya mengusut dan menangani kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Jadi tidak benar jika ada berita bahwa Kasus Century berhenti.

Kemudian Mas Zainal menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua fihak sekaligus meminta maaf. Sekali lagi, Mas Zainal menegaskan bahwa acara malam itu adalah  batu pijakan, simpul dan pemantik.

Pada puncak acara, karena ada seorang penanya yang tidak sependapat dengan Cak Nun yang sangat serisu berdoa kepada Allah dalam perjuangan melawan korupsi dan mengatakan kita tidak boleh hanya berdoa, harus ada tindakan, karena bisa terjebak dalam faham jabariyah. Cak Nun menanggapi dengan sangat serius mengatakan "Saya mencabut do'a-do'a saya dan omongan-omongan saya yang menyagkut Allah. Karena sesungguhnya saya sangat serius ketika berbicara Tuhan. Tetapi karena anda bilang begitu dan mengatakan jabariah , saya mundur dua langkah, dan sekali lagi saya cabut do'a-do'a saya. Dan mulai sekarang jangan andalkan Tuhan, andalkan dirimu sendiri. Mulai hari ini saya tidak akan ikut-ikut mendukung gerakan pemberantasan korupsi. masih banyak hal yang harus saya bantu besok atau dilain hari. Mas Zainal tenang-tenang saja.".

Memang di puncak acara ada sedikit ganjalan akibat seorang penanya tersebut, Maiyah yang biasanya ditutup dengan do'a pun, malam itu tidak ada do'a yang menutup acara malam itu. Kemudian Cak Nun memeprsilahkan para hadirin untuk bersalaman kepada para narasumber, diiringi lagu Tombo Ati oleh Kiai Kanjeng yang di request oleh Pak Busyro Muqoddas. Kiai Kanjeng menutup acara malam itu, mengiringi para hadirin meninggalkan lokasi dengan "Hati Matahari".

Terima kasih untuk mas Ibrahim atas bantuan share reportasenya dari Maiyah Network.

2 komentar:

Rizky said...

mantep banget inih, komplit plit plit reviewnya....

mencoba bertaqwa eh dibilang jabariyah... semoga diberi petunjuk itu orang yang menuduh

Agus Purnomo said...

jujur menjadi barang langka. krena konidsinya yang langka so hrus kita budidayakan dan kita kembangkan...
betul g pak he