Wednesday, 21 December 2011

Berani Jujur, Hebat!!!

PUKAT FH UGM mengadakan sebuah acara bertajuk tembang anti korupsi di UC UGM tanggal 18 Desember 2011 kemarin, Mas Zainal Arifin Muchtar direktur PUKAT memang sudah berencana mengundang Cak Nun dan Kiai Kanjeng karena dianggap sebagai sosok yang mampu membangun dan memandu suasana dialog dan diskusi dengan masyarakat luas dalam nuansa yang cerdas dan memikat serta penuh kehangatan, sehingga harapannya adalah, terbentuknya pemahaman Anti Korupsi yang kokoh dalam fikiran masyarakat. Selain Cak Nun sendiri, hadir pula Pak Mahfud MD, Pak Busyro Muqoddas, Budi Santoso dari OMBUDSMAN, Sahlan Said, mantan hakim Jogja dan beberapa narasumber lain. Buya Syafii dan Bambang Widjoyanto yang awalnya sudah dikonfirmasi akan hadir, ternyata berhalangan hadir. Namun, hal tersebut tidak mengurangi daya tarik diskusi malam itu.

Kiai kanjeng mengawali acara tersebut dengan nomor-nomor Wild World-Ojo Lamis, Kalimah, Sailing-Sholatullah. Dan para hadirin semakin antusias dan yang hadir juga semakin banyak, menjelang dimulainya acara inti, Kiai kanjeng membawakan lagu Gundul Pacul yang sudha diaransemen ulang oleh Kiai Kanjeng, nomor ini dibawakan untuk menandai masa transisi dari nomor-nomor sebelumnya yang "luar negeri" menuju kearifan dn filososfi negeri Indonesia. gagasan utama acara ini adalh agar seluruh lapisan masyarakat tetap menyalakan semangat pemberantasan terhadap korupsi yang merupakan sudah menjadi penyakit yang sangat akut dan krusial dalam neagara dan pemerintahan NKRI.

Ketika pembiacara sudah masuk di dalam ruangan, Kiai Kanjeng menyambut mereka dengan nomor Rampak Osing, lagu yang memberikan pesan yang sangat dalam, "Arep golek opo, arep golek opo kok jegal-jegalan?, Arep ngudak opo, arep ngudak opo kok uber-uberan?", mau nyari apa kok saling jegal, mau ngejar apa,, kok saling uber. Atau yang lebih kontekstual, mau cari apa di dunia ini, kok sampai korupsi segala?.

Cak Nun kemudian mulai memandu acara, mengatur acara dan kemudian mengajak semua yang hadir agar menyatukan hati, bahwa seburuk apapun kondisi Indonesia saat ini, sebobrok apapun pemerintahan yang ada saat ini, kita harus yakin bahwa Indonesia akan berubah menjadi lebih baik. Dengan iringan Kiai Kanjeng, semua hadirin berdiri menyanyikan Indonesia Raya.

Cak Nun kemudian mendoakan, agar apa yang dihajatkan oleh Mas Zainal dari PUKAT malam ini dikabulakan Allah swt. Perlu diketahui, Mas Zainal Arifin Muchtar ini adalah Putra asal Pambusuan Polewali Mandar Sulawesi Barat, daerah tersebut adalah salah satu titik historis sejarah sosial Cak Nun dan Jama'ah Maiyah dalam berdakwah. Kemudian Cak Nun menata acara dan mengucapkan sebuah statement awal, "Jam-jam segini adalah waktu peak time untuk media massa, sehingga saya bacakan urutan pembicaranya, sedangkan giliran saya nanti saja jam 23-an ketika peak time tersebut sudah lewat, sehingga apa yang saya omongkan tidak perlu dimuat di media massa". Kemudian satu persatu parea pembicara diperkenalkan oleh Cak Nun, dimulai dengan memperkanalkan Pak Mahfud MD, diselingi dengan guyonan khas Cak Nun yang mesra kepada Pak Mahfud.

Kemudian Pak Mahfud diberikan waktu untuk memberikan sedikin opening statmentnya. Menurut beliau, Korupsi adalah musuh kita bersama. Tujuan utama dari Reformasi 1998 adalah pemberantasan korupsi. Namun yang terjadi saat ini, proses pemberantasan korupsi berjalan sangat lambat, sehingga akhirnya masyarakat menjadi imun, sekarang masyarakat sudah tidak kaget lagi ketika mendengar korupsi dengan nominal puluhan juta, bahkan milyaran, karen saking banyaknya kasus korupsi. Korupsi sudah pasti menghancurkan kita. Di sisi lain, KPK masih memberikan hukuman yang sangat ringan, sekian banyak yang dikorupsi, terdakwa hanya dihukum dengan hukuman yang sangat pendek. Permasalahan penegakkan korupsi menjadi sangat sulit, karena para penegak hukum itu sendiri menjadi bagian dari korupsi yang terjadi di negara ini.Sekarang, gratifikiasi bukan berbentuk uang saja, tapi juga dalam bentuk cinta asmara, Pak Mahfud menyindir kisah asamara Angelina Sondakh dengan seorang penyidik KPK.

Kemudian, Cak Nun mengatakan, bahwa kalau kita bisa tersambung secara hati seperti ini, maka pori-pori zaman akan lebih terbuka, sehingga ide-ide mengenai pemberantasan korupsi mendapatkan gumpalan kekuatan dan dukungan dari masyarakat luas. Cak Nun juga menanggapi masalah imun-nya masayarakat terhadap kasus korupsi saat ini, menurut Cak Nun, pelaku korupsi justru sudah merasakan titik kesenangan melakukan korupsi, karena para koruptor bisa melakukan Umroh dengan uang korupsi, mereka pikir bisa melakukan "Money Laundrying" dengan melaksanakan Ibadah Umroh.

Kemudian Pak Suparman Marzuki bercerita tentang mimpi dimasa lalu bersama Cak Nun tentang masa depan Indonesia, dilanjutkan oleh Mas Zainal menyampaikan bahwa problem korupsi terletak pada dua ranah, yaitu ranah kemampuan dan ranah kemauan. Mas Zainal mengajak para hadirin untuk menyatukan terlebih dahulu antara pikiran dan tindakan kita. Jangan kita lantang berteriak berantas korupsi, dalam praktik sehari-hari kita melakukan kkorupsi kecil-kecilan seperti menyuap petugas pembuta SIM dan lain sebagainya. Menurut Mas Zainal, para pemimpin di Indonesia saat ini tidak meiliki kemampuan, sayangnya kemudian menyerahan urusan ini kepada para politisi. Kemudian Romo S.T Sunardi dari Universitas Sanata Dharma dipersilahkan Cak Nun untuk menyampaikan sesuatu, beliau menyampaikan usulan, agar KPK membuat sarana media berupa koran atau TV korupsi, sebab saat ini masyarakat luas lebih mengandalakna dua media tersebut dalam mendapatkan informasi. Kemudian Cak Nun menanggapi usulan tersebut dengan mengatakan "Bagus sekali idenya, Nanti koran atau TVnya dibiayai dari uang korupsinya para koruptor, dengan catatan, pembiyaan tersebut tidak mengganggu proses pengadilan teradap para koruptor. Artinya, pengadilan tetap jalan terus".

Cak Nun mengatakan, bahwa Jihad pemberantasan korupsi ini terbagi dalam dua jenis, yaitu Ijtihad pemberantasan korupsi dan Mujahadah pemberantasan korupsi. Yang termasuk dalam kategori Ijtihad adalah para akdemisi, kemudian Kiai Kanjeng membawakan nomor medely nusantara, yang berisi lagu-lagu nusantara, yang diselipi lagu Heal the world dan Imagine.

Kemudian Cak Nun mempersilahkan sahabat lamanya ketika di SMA Muh 1 Jogja, Pak Busyro Muqoddas untuk berbicara didepan para hadirin. Seperti di acara Dialog Kebudayaan di Taman Siswo 2 minggu lalu, Pak Busyro mengawalinya dengan menggojlok Cak Nun, bercerita tentang cerita masa lalu di SMA, sehingga susanan pun menjadi semakin gerr dan hangat. PakBusyro mengatakan, bahwa setidaknya ada 56.000 kasus korupsi yang sudah dilaporkan kepada KPK. Beliau menyampaikan, kasus sebanyak itu tidak mungkin diselesaikan dalam waktu yang singkat, sedangkan personel dari kejaksaan dan kepolisiam tidak sebanding dengan jumlah kasus yang akan dituntaskan. Dari sekian kasus tersebut, KPK baru saja menyelamatkan uang negara dari sektor migas sebesar 156 trilyun rupiah yang sempat berada di luar negeri. Menurut beliau, ada jenis korupsi yang disebut corruption by decission, yaitu korupsi yang dilakukan berdasarkan keputusan dan keputusan tersebut didukung dengan planing/perencanaan yang rapi. Di tingkat masyarakat, permisivisme terhadap korupsi juga sangat marak. Belum lagi kalau bicara korupsi dalam bentuk mark up anggaran suatu pembelanjaan. Yang perlu digarisbawahi, proses politik pada masa reformasi adalah menghendaki pemberantasan korupsi,  tetapi seiring dengan itu pula, para politisi sendiri pula yang menghancurkan semangat melawan korupsi. Terutama saat proses PILKADA atau PILPRES, dimana masyarakat digiring untuk memilih calon berdasarkan uang yang diterima dari calon. Menurut Pak Busyro, Pemberantasan korupsi ini terkait erat dengan sistem dan kultur politik. Beliau berpessan kepada para mahasiswa, agar sepulang dari acara ini, mereka harus berkontemplasi, agar bentuk-bentuk perlawanan terhadap korupsi tidak dilakukan dengan cara-cara yang melawan hukum dan menciptakan chaos.

Setelah beberapa pembicara, Cak Nun mendapatkan sebuah ilham untuk membentuk sebuah jaringan atau networking yang dipimpin oleh PUKAT, Cak Nun menyarankan agar Mas Zainal mengidentifikasi semua hadirin yang datang dari berbagai kampus di Jogja dan elemen lain, agar bisa bekerjasama dan berkoordinasi, sehingga bila ada sebuah keperluan dalam menyikapi kasus korupsi bisa lebih terorganisir disampaikan kepada PUKAT. Asusminya, berperang tidak boleh hanya mengandalakan komandan batalyon saja, melainkan para prajurit harus lebih siap kapan saja ada tugas.Cak Nun menegaskan, kiranya kita bisa sepakat bahwa kita korupsi atau hanya meu melakukan kejujuran karena ada alasan yang merupakan komprehensi. Artinya ada alasan yang bersifat moral, etik, hukum, agama dan bahkan tasawuf. Pasukan jihad pemberantas korupsi hendaknya berlapis-lapis. Ada yang mengolah as[ek kognitifnya, ada juga yang mengolah aspek lainnya.

Dialog sesi pertama dimulai, salah satu penanya mengungkapkan pertanyaan tentang sistem yang ada saat ini. Kemudian Pak Mahfud mencoba menjelaskan, menurut beliau kalau berbicara sistem ada beberapa sub-nya. Salah satunya adalah segi isi/peraturan. Dari sisi sebenaranya peraturan yang ada sudah sangat mencukupi. Kalau berbicara struktur juga demikian, secara umum sudah OK. Artinya, kalau kita berbicara tentang sistem terus menerus nggak akan ada habisnya. Sebab-sebab korupsi juga sudah kita ketahui bersama. Sekarang waktunya bertindak.

Kemudian Mas Zainal merespon secara keseluruhan, bahwa dirinya berharp, pertemuan malam itu menjadi batu pijakan, sebuah milestone, simpul dan pemantik. Pada intinya, gerakan melawan korupsi ini haruslah berjamaah. Korupsi adalah musuh kita bersama, dan kita harus melawan korupsi secara bersama-sama. Menurut Mas Zainal, sejauh ini pembicaraan tentang pemberantasan korupsi berlangsung dalam tiga pendekatan, institusionalis, behavioral dan strukturalis. Institusionalis artinya perbaikan di institusi-institusi. Behavioral artinya perilaku para pejabat diperbaiki dengan berbagai pendekatan. Sedangkan strukturalis artinya adalah bangunan secara keseluruhan yang diperbaiki, termasuk bangunan budaya.

Menyambung apa yang disampaikan Mas Zainal, Cak Nun mengatakan bahwa kedekatannya dengan Pak Busyro saperti terlihat malam ini, salaing ledek, saling gojlok adalah wujud bahwa secara budaya kita sudah jelas kompak mutlak menolak korupsi. Tinggal pembenahan di beberapa aspek lainnya.

Dialog sesi kedua jumlah penanya lebih banyak, di sesi ini banyak yang memunculkan soliditas kekuatan arus yang lebih luas dalam melawan korupsi, juga usulan tentang hukuman koruptor, ada yang usul agar koruptor ditelanjangi, artinya hukuman yang bersifat sosial juga harus ada. Muncul pula usulan agar KPK lebih sinergis dengan masyarakat luas, semisal aktif memberikan informasi sampai pada tahap mana kasus korupsi sedang ditangani. Ketika ada yang menanyakan tentang kasus Century, Pak Busyro kemudian langsung menanggapinya, bahwa Kasus Century adalah masalah politik, sehingga posisinya sekarang dilimpahkan kepada POLRI dan sudah diproses. wewenang KPK hanya mengusut dan menangani kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Jadi tidak benar jika ada berita bahwa Kasus Century berhenti.

Kemudian Mas Zainal menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua fihak sekaligus meminta maaf. Sekali lagi, Mas Zainal menegaskan bahwa acara malam itu adalah  batu pijakan, simpul dan pemantik.

Pada puncak acara, karena ada seorang penanya yang tidak sependapat dengan Cak Nun yang sangat serisu berdoa kepada Allah dalam perjuangan melawan korupsi dan mengatakan kita tidak boleh hanya berdoa, harus ada tindakan, karena bisa terjebak dalam faham jabariyah. Cak Nun menanggapi dengan sangat serius mengatakan "Saya mencabut do'a-do'a saya dan omongan-omongan saya yang menyagkut Allah. Karena sesungguhnya saya sangat serius ketika berbicara Tuhan. Tetapi karena anda bilang begitu dan mengatakan jabariah , saya mundur dua langkah, dan sekali lagi saya cabut do'a-do'a saya. Dan mulai sekarang jangan andalkan Tuhan, andalkan dirimu sendiri. Mulai hari ini saya tidak akan ikut-ikut mendukung gerakan pemberantasan korupsi. masih banyak hal yang harus saya bantu besok atau dilain hari. Mas Zainal tenang-tenang saja.".

Memang di puncak acara ada sedikit ganjalan akibat seorang penanya tersebut, Maiyah yang biasanya ditutup dengan do'a pun, malam itu tidak ada do'a yang menutup acara malam itu. Kemudian Cak Nun memeprsilahkan para hadirin untuk bersalaman kepada para narasumber, diiringi lagu Tombo Ati oleh Kiai Kanjeng yang di request oleh Pak Busyro Muqoddas. Kiai Kanjeng menutup acara malam itu, mengiringi para hadirin meninggalkan lokasi dengan "Hati Matahari".

Terima kasih untuk mas Ibrahim atas bantuan share reportasenya dari Maiyah Network.

Monday, 19 December 2011

Sedikit catatan Mocopat Syafaat Desember 2011

Hujan mengguyur Jogja sejak sabtu sore hari menjelang maghrib, namun guyuran hujan tidak menyurutkan niat ikhlas para jama'ah maiyah Mocopat Syafaat untuk tetap hadir di forum ilmu Mocopat Syafaat edisi Desember 2011. Dalam sejarah saya ikut maiyah di Mocopat Syafaat, ketika hujan mengguyur lokasi sejak dimulainya acara, jama'ah tetap setia "ngangsu kawruh", ada yang berbasah-basahan, ada yang beralaskan tikar yang sudah basah, namun kehangatan dan kemesraan Maiyah tidak berkurang sedikitpun. Memang jama'ah yang hadir malam itu tidak sebanyak biasanya, karena faktor cuaca.

Seperti biasanya, tadarusan mengawali acara maiyah, dilanjutkan penampilan beberapa nomor-nomor oleh Kiai Kanjeng, Kiai Tohar a.k.a Toto Raharjo juga tetap setia menjadi moderator maiyah Mocopat Syafaat. Yang spesial malam itu adalah, hadirnya Cak Fuad, Kiai Padhang Bulan yang sudah sejak lama berhasrat ingin hadir di Mocopat Syafaat namun baru diberi kesempatan oleh Allah swt pada edisi Desember 2011 ini. Maka, bliau pun di daulat menjadi narasumber utama malam itu.

"Islam itu agama yang mudah", Cak Fuad mengawali tausiahnya malam itu. Statemen ini adalah statemen yang sangat mendasar, Rasulullah saw sering mengatakan demikian. Ajaran Islam itu sebenarnya simpel, ringan, namun yang membikin berat dan rumit adalah manusianya sendiri. Cak Fuad kemudian menjelaskan beberapa definisi istilah-istilah yang sering kita dengar. Muslim adalah orang yang tidak mencelakai dan menyakiti orang lain, baik perkataan maupun perbuatan. Senantiasa menjaga tangan dan lidah agar tidak mencelakai orang lain. Mu'min adalah orang yang memberi jaminan keamanan terhadap manusia yang tinggal disekitarnya, kemanaan tersebut melingkupi harta, martabat dan nyawa. Definisi ini sesuai dengan isi khutbatul wada' pada ibadah haji yang terakhir dilaksanakan oleh Rasulullah saw. Sejarah menuliskan, bahwa Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji hanya 2 kali semasa hidupnya. Salah satu indikator kehormatan seseorang adalah ketika dia merdeka dari jajahan orang lain. Muhajir adalah orang yang berhijrah. pada zaman Rasulullah saw, hijrah itu wajib hukumnya. Suatu ketika Rasulullah saw ditanya seseorang tentang siaakah Muhajir itu. Rasulullah saw menjawab : Muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang tidak disukai oleh Allah swt. Mujahid adalah pejuang. Menurut Rasulullah saw, Mujahid adalah orang yang berjuang agar dirinya tunduk kepada Allah swt. Tidak selamanya Jihad mengandalkan fisik, berperang dan lain sebagainya. Namun, Jihad juga dapat dilakukan dengan harta, tenaga, fikiran, waktu bahkan nyawanya.

Agama adalah Nasihat. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah saw, namun memaknai hadits ini juga harus lengkap, jangan sepenggal saja. Agama adalah Nasihat, nasihat ini ditujukan untuk manusia yang memiliki 5 kriteria, yaitu mereka yang setia kepada Allah, Rasulullah, Kitabullah, pemimpin dan sesama muslim. Dari 5 hal tadi, 3 yang pertama hukumnya adalah wajib, sedangkan 2 yang terakhir kondisional.

Begitu mudahnya Islam difahami dan diamalkan, Rasulullah saw banyak sekali memberikan rumusan yang sederhana. Contohnya : "Sayangilah penduduk bumi, maka engkau akan disayang oleh Penghuni Langit". atau contoh yang lain, "Barang siapa yang memudahkan (urusan) orang lain, maka ia akan dimudahkan (urusannya) oleh Allah swt".

Kemudian Cak Fuad menjelaskan pertanyaan dari seorang JM yang menanyakan bagaimana jika kita mendoakan orang non muslim dan bagaimana jika kita mentahlilkan orang meninggal yang non muslim. Cak Fuad menjelaskan dengan penjelasan yang sangat mudah difahami, bahwa sah-sah saja kita mendoakan orang non muslim, misalkan kita mendoakan teman kita yang non muslim akan melaksanakan ujian, maka kita mendoakan agar dia lulus ujian, itu bukan sesuatu hal yang salah. Namun, lebih baik lagi jika kita juga mendoakan mereka agar mereka mendapat hidayah oleh Allah swt sehingga mereka masuk Islam. Terkait tahlilan kepada orang yang non muslim, Cak Fuad menjelaskan, kalau orang yang sudah mati, maka sudah menjadi urusan Allah swt, sudah tidak ada lagi sangkut pautnya dengan manusia yang lainnya, kita saja tentu tidak akan rela kalau diantara orang muslim meninggal, kemudian yang sibuk justru orang non muslim, begitupun sebaliknya. Secara budaya memang Tahlilan sering dilaksankan, namun jangan dicampur adukan antar umat beragama, jangan mentang-mentang tahlilan adalah budaya, kemudian identitas agama dikesampingkan.

Kemudian Dr. Henrich menjelaskan sedikit tentang Adolf Hitler. Kita tahu dalam sejarah, bahwa Hitler adalah pemimpin yang sangat kejam, membunuh sekian manusia yahudi pada zamannya. Konon hitler dimakamkan di Indonesia. Adolf Hitler adalah seorang pemimpin [artai buruh dan sosialis di Jerman pada zamannya, karena dia dikenal sebagai orator yang handal, maka dia bisa menjadi pemimpin Jerman.

Menjelang tengah malam, Cak Nun akhirnya ikut bergabung, meskipun kondisi badan beliau masih belum fit, namun sebagai bukti kecintaan beliau dan kesetiaan beliau kepada Jama'ah Maiyah, beliau tetap hadir di Mocopat Syafaat malam itu. Dan malam itu pun, Cak Nun tidak memberikan bahan diskusi atau materi yang berat, sehingga beliau hanya meneruskan apa-apa yang sudah disampaikan oleh narasumber sebelumnya. pada malam itu juga, diperkenalkan Maiyah Magelang, Meneges Qudroh, forum maiyah yang sudah berjalan 9 bulan. Kemudian dilanjutkan pemaparan teman-teman PUKAT UGM yang akan punya gawe di UC UGM pada tanggal 18 Desember 2011, "Berani Jujur, hebat!". (reportasenya di postingan selanjutnya). Hadir juga malam itu adalah Mas Kimpling, aktivis Tim SAR DIY, karena pada bulan ini, tepat 1 tahun erupsi merapi 2010, sehingga beliau ikut hadir di Mocopat Syafaat. Diskusi tengah malam itu pun diselingi nomor-nomor oleh Kiai Kanjeng, duet antara Mas Kimpling dengan Mbak Yuli, juga penampilan Dr. Henrich bermain drum. Pada sesi dialog, Cak Nun kemudian meminta salah seorang penanya dan juga kepada Dr. Henrich untuk menyebutkan 3 orang yang paling buruk di dunia dan 3 orang yang paling baik di dunia. Yang paling buruk, muncul nama-nama seperti Hitler, Stalin, George Bush, Soeharto, dan 3 orang yang baik muncul nama Rasulullah Muhammad saw dan beberapa nama yang lain, termasuk Cak Nun.

Sekitar jam 2 dinihari, Mas Sabarang dan teman-teman dari Jepara memperkenalkan "Kampus Sawah", dimana komunitas ini adalah mengajak seluruh elemen masayrakat untuk kembali ke sawah, kembali bertani. Fenomena saat ini, anak petani tidak mau jadi petani, apalagi yang bukan petani, lantas 5-10 tahun lagi siapa yang akan bertani. Menurut Mas Sabarang, PR yang cukup besar dan panjang penyelesaiannya adalah, menumbuhkan kepercayaan diri kepada petani, bahwa pekerjaan petani adalah bukan pekerjaan yang rendahan, mau makan apa manusia kalau tidak ada petani. Kemudian Cak Nun menambahkan, mundurnya pertanian Indonesia adalah akibat dari kapitalisasi di sektor pertanian itu sendiri, salah satu contohnya adalah pupuk, ketika para petani sedang musim bertanam, harga pupuk dinaikkan, begitu masa panen, harga gabah malah dihancurkan. Menurut Mas Sabrang, dahulu ada sebuah jenis kupu-kupu yang menebarkan bau yang tidak disukai oleh wereng, namun karena dianggap sulit dikembang biakkan, maka akhirnya punah. Tanah itu butuh maintenance, butuh perawatan, namun bukan dengan bahan kimia.

Cak Fuad kemudian didaulat untuk menutup Maiyah Mocopat Syafaat dengan memberikan sebuah pesan, bahwa setiap Forum Maiyah, baik itu Mcocpat Syafaat, Pdhang Bulan, bangbang Wetan, Kenduri Cinta, gambang Syafaat dan yang lainnya biarkan memiliki ciri khas tersendiri, jangan diatur atau diklasifikasikan, sehingga justru menghilangkan unsur alami Maiyah itu sendiri, dan Cak Fuad menutup maiyah malam itu dengan memimpin do'a.


Sekian, sedikit catatan Mocopat Syafaat Desember 2011, mohon maaf jika ada kesalahan.

Saturday, 10 December 2011

Cultural Night at UIN Jogja

Sebenarnya,,, saya nggak mau bikin reportase maiyahan tadi malam di UIN, karena memang faktanya saya bingung mau nulis apa, karena tadi malam lebih banyak nyanyi-nyanyi bersama Kiai Kanjeng di Auditorium UIN Jogja. Memang sejak awal Cak Nun sudah bilang, bahwa kita nggak akan diajak diskusi yang berat, yang penting pulang dari acara ini, kita memiliki niatan yang baru lagi untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Saya datang sekitar jam 7 lebih sedikit, ketika acara belum dimulai, jadi tempat masih sepi, dan akhirnya saya iseng jalan-jalan ke belakang panggung,  ternyata temen-temen kiai kanjeng lagi duduk-duduk di sana, jadi ya ikut nimbrung aja lah, sempet salaman sama mas Imam fatawi, mas adit, mas helmy, dan yang lainnya, setelah itu, mereka naik ke panggung dan membawakan 2 lagu pembuka, salah satunya adalah Wild World, semua yang hadir sudah sangat antusias, walapun baru sedikit, yaitu kebanyakan adalah [eserta Indonesia Youth Forum. Kiai Kanjeng kembali turun panggung, karena acara di ambil alih oleh IYF, saya pun kembali ke belakang panggung, saat asyik duduk-duduk,  Cak Nun datang, dan ikut duduk-duduk di parkiran motor. Nggak lama kemudian, beliau ngajak masuk, karena acara akan dimulai. Seperti biasanya, dimanapun maiyah diadakan, begitu Cak Nun naik ke panggung, seperti sudah menjadi sebuah sistem yang otomatis, para audience mendekat ke panggug utama acara, mendekat ke Cak Nun. Dan tadi malam, saya tidak kebagian tempat di depan panggung, akhirnya harus ikhlas berada di samping kanan panggung :-) . Tapi walaupun nggak di depan panggung, saya disamping panggung duduk bersama Cak Zaky, manajemen Kiai Kanjeng, dan ngobrol banyak disamping panggung. Salah satunya tentang "perang" dengan Kompas pasca maiyah 30 November 2011 lalu di Taman Siswa bersama KPK.

Suatu saat nanti, Demokrasi yang dibangun Indonesia akan membawa kasih sayang ke seluruh bangsa di dunia, dan bukan untuk menjajah mereka.


Karena memang sejak awal Cak Nun nggak ingin mengajak diskusi yang berat dan panjang, beliau mengundang beberapa mahasiswa dari negara-negara peserta IYF, dan diminta untuk menyanyikan lagu khas negaranya masing-masing diiringi oleh Kiai Kanjeng tentunya. Dan begitu Cak Nun mengundang Mbak Via Sanganingrum alias Novia Kolopaking, seluruh audience kembali riuh bertepuk tangan. Sesaat setelah itu, Kiai Kanjeng membawakan Saloom elechem, sebuah nomor dengan genre campur Islam-Yahudi-Kristen. Kalau orang baru mendengarnya, pasti merasa aneh, bahkan mungkin tidak bisa menerima, video rekaman lagu ini yang beredar di youtube saja menuai banyak kecaman dan kritikan. Dan Cak Nun tadi malam juga tidak menjelaskan kenapa Kiai Kanjeng membawakan lagu tersebut.

Walaupun Cak Nun tidak mengajak diskusi yang berat, tapi ada beberapa poin yang memang bisa menjadi oleh-oleh maiyahan tadi malam. " Pada saatnya nanti, Indonesia dengan demokrasi yang dibangun saat ini, akan membawa kasih sayang ke seluruh bangsa di Dunia, bukan untuk menjajah mereka, tidak seperti Amerika yang menggunakan Demokrasi mereka untuk menjajah Iran, Irak, Libya dan lain sebagainya untuk menjajah minyak mereka". Orasi Cak Nun membuat seluruh yang hadir bertepuk tangan. "Pemerintahan Indonesia bisa saja hancur, tetapi Rakyat Indonesia, Bangsa Indonesia tidak akan bisa dihancurkan oleh Bangsa manapun di Dunia ini dengan cara apapun, bangsa indonesia adalah bangsa yang selalu mengambil resikp-resiko berat dan juga besar dalam kehidupan ini". Dan memang benar adanya, kita mau apa lagi dengan pemerintahan Indonesia?, setiap hari, korupsi bukannya berkurang, malah sekarang berjama'ah. nggak mau kalah dengan sholat dan haji. Jadi, pemerintahan Indonesia akan hancur oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain, dan jangan harap akan ada kejadian seperti di Mesir atau Libya untuk menggusur pemerintahaan yang ada saat ini di Indonesia, karena bagi Indonesia itu sudah bukan waktunya lagi, apa yang dilakukan Mesir dan Libya, sudha dilakukan Indonesia 1998 silam. Bahkan campur tangan Amerika pun, tidak akan sanggup menghancurkan Indonesia. Kita bisa melihat sekarang Mesir dan Libya kebingungan membangun kembali pemerintahan mereka, salah sendiri nyontek reformasi kok ke Indonesia? hehehehe. "Wahai sekutu, jangan coba-coba kalian datang menjajah Indonesia, jangan sekali-sekali kalian mencoba menginvasi Indonesia, karena akan kalian hadapi ribuan pasukan berani mati syahid yang ada di Indonesia, mereka adalah pasukan pengangguran Indonesia", seklias, orasi Cak Nun memang mengundang gelak tawa,, dan benar saja, seluruh yang hadir pun tertawa dengan orasi Cak Nun tersebut. Namun memang ada benarnya, Nasionalisme rakyat Indonesia sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, kalau saja reog dan beberapa kebudayaan yang di klaim oleh Malaysia itu mengakibatkan perang, Malaysia sudah hancur sekarang. Tapi, itulah Bangsa Indonesia, bangsa yang murah hati, pemaaf, penuh kasih sayang, jangankan kepada Malaysia, kepada pemerintahannya sendiri pun sangat murah hati, tiap hari uang rakyat di korupsi, rakyat Indonesia bisa ketawa-ketawa, masih bisa makan, masih bisa ngutang di warung. Sepakbola kalah dari Malaysia pun, bukan sebuah masalah yang besar, sekalipun komentator sepakbola kemudian banyak mengeluarkan argumen, toh rakyat Indonesia pada akhirnya bisa menerima kekalahan. Wong Sea Games sudah juara umum, masak Sepakbola juga mau diambli, jangan lah, kita bagi satu-satu ke negara tetangga, kebetulan Malaysia dapat jatah Sepakbola. hehehehe....

"Jangan berkeringat untuk sesuatu yang tidak jelas di kemudian hari". Cak Nun kembali mengeluarkan sebuah kalimat, sebelum mengajak jama'ah maiyah ber sholawat. Cak Nun memancing statement itu saat mengajak jama'ah bersholawat, karena memang kita diajarkan untuk bersholawat untuk Rasulullah SAW, dan itu jelas imbalannya di kemudian hari. Dan memang benar apa yang dikatakan Cak Nun, buat apa kita berkeringat, bekerja keras, untuk sesuatu yang tidak jelas hasilnya di kemudian hari. Setiap anda yang membaca postingan ini, pasti anda bisa mengartikan sendiri-sendiri.

Acara semakin hangat, "Apakah kalian setuju dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini?!!", Cak Nun bertanya dan serempak dijawab oleh para hadirin"Tidaaaaaakkkk", "Dadi sakjane koe iki podho gak setuju SBY dadi presiden to??!!". Kemudian seorang mahasiswa diminta naik ke panggung oleh Cak Nun untuk menyampaikan beberapa penguat statement diatas, dan ketika Cak Nun bertanya apakah 10 tahun lagi, dia masih mengatakan hal yang sama atau tidak, mahasiswa tersebut dengan tegas menjawab Iya!. Menurut saya, ini bukan nada pesimis bahwa dalam 10 tahun yang akan datang, tidak ada perubahan yang signifikan di Indonesia, justru ini adalah tantangan kepada para pemuda Indonesia, kalaupun memang tidak cukup waktunya, paling tidak kita tidak menambahi kerusakan yang ada, tidak ikut nambahi korupsi.

Ternyata mahasiswa tersebut adalah orang madura, Cak Nun akhirnya memancing dengan sebuah statement yang sebenarnya sudah lama saya dengar. "Kalau bunyi kokok ayam di Jawa itu kukuruyuk, di sunda kongkorongkong, di Madura, kukurunuuk. Jadi sebenarnya bunyi kokok ayam itu seperti apa?". Seperti biasa, orang madura selalu menjadi bahan lawakan Cak Nun saat maiyahan, kemudian Cak Nun melanjutkan diskusi kecil tersebut dengan menghubungkan keberadaan Muhammadiyah, NU, Syi'ah dan lain sebagainya yang merupakan organisasi Islam. Kalau menurut Muhammadiyah Islam itu seperti ini, menurut NU, Islam itu seperti itu, menurut Syi'ah, Islam itu kayak gitu dan lain sebagainya, jadi sbenarnya Islam itu seperti apa?. Muhammadiyah, NU dan lain sebagainya itu bukan agama. " Agama kamu apa? NU?", Cak Nun bertanya kepada mahasiswa madura tersebut, "Di madura NU itu agama, bahkan ayamnya saja NU", seluruh hadirin tertawa. Dan memang itu yang terjadi saat ini, munculnya gerakan-gerakan baru, justru membuat masyarakat bingung sebenarnya Islam itu yang seperti apa?. Saya jadi ingat statement Cak Nun di Kenduri Cinta beberapa bulan yang lalu, beliau mengatakan bahwa yang kita cari adalah Islamnya Rasulullah SAW.

"2 jam malam ini tidak akan cukup untuk merubah Indonesia, tetapi saat kita selesai dari acara ini, kita memiliki sebuah niatan yang baru lagi, untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik lagi, bahkan merubah Dunia".
Acara tadi malam sangat meriah, semua aliran musik dibawakan oleh Kiai Kanjeng, mulai dari Rock, Jazz, Campur Sari, sampai Dangdut semua ada. Lagu "Kemesraan" kembali menjadi ending acara maiyahan tadi malam, seperti maiyahan minggu kemarin dengan KPK. Yang juga tidak kalah ramai, walaupun menyisakan sebuah konflik dengan Kompas. (Ini off te record ya). hehehehe.....

Maaf ya, ndak ada photo-photonya, soalnya tadi malam nggak dapat tempat yang bagus, dan juga nggak punya kamera yang bagus juga. hehehehe. Cari aja di Twitter dengan hastag #CNKKUIN , ada beberapa photo acara tadi malam yang diupload temen-temen maiyah.

Thursday, 1 December 2011

Negara Hukum, Manusia Akhlak

Cak Nun bersama para Narasumber di panggung utama
Korupsi memang sudah sangat luar biasa di Indonesia, bahkan bukan hanya uang saja yang dikorupsi, berita juga dikorupsi. Rabu 30 November 2011, KPK mengadakan Dialog Kebudayaan dengan tajuk "Negara Hukum, Manusia Akhlak". Bertempat di Pendopo Taman Siswo, Yogyakarta, KPK bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng menggelar event ini, hadir dalam acara ini Ketua KPK, Busyro Muqoddas bersama Chandra M. Hamzah, Wakil Jaksa Agung, Dharmono, Kabreskrim POLRI, Sutarman. Selain itu, beberapa budayawan, seniman dan tokoh agama juga hadir, Sudjiwo Tedjo, M. Sobary, dan Romo Sindhunata.

Seperti biasanya, dimana-mana, sebuah acara yang diselenggarakan oleh Cak Nun bersama Kiai Kanjeng memang distur sedemikian rupa agar sedekat mungkin jarak antara pembicara dengan para hadirin yang menghadiri acara tersebut, sehingga saat acara dimulai, Cak Nun meminta para hadirin untuk mendekat kearah panggung utama. Acara dibuka dengan sebuah lagu "Sohibu Baitiy", sebuah lagu yang menggambarkan kedekatan sang pencipta, Allah swt dengan manusia, kemudian Sudjiwo Tedjo menyanyikan "Titi Kolo Mongso" diiringi oleh Kiai Kanjeng, mungkin hanya di acara tadi malam, Sudjiwo Tedjo menyelipkan aurat At Tiin dalam lagunya.

Cak Nun membuka acara dengan sebuah statement, bahwa Islam adalah rahmatan lil 'aalamiin, bahwa Islam harus memberi kenyamanan dan kenyamanan kepada seluruh ummat, memberi keamanan harta, nyawa dan martabat kepada seluruh manusia, sehingga mereka yang bukan Islam merasa nyaman ketika berkumpul dengan orang Islam. Cak Nun kemudian mempersilahkan pembicara satu persatu untuk menyampaikan poin-poin penting dari acara ini. Pak Busyro, Romo Sindhunata, Pak Dharmono dan Pak Sutarman bergantian berbicara di depan para hadirin. Pak Busyro adalah sahabat Cak Nun ketika masih bersekolah di SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta, bahkan mereka adalah orang penting dalam IPM di zaman mereka, Cak Nun adalah ketua IPM dan Pak Busyro adalah Sekretaris IPM, walaupun menurut Cak Nun, kemudian beliau mundur dari Ketua IPM dan digantikan oleh Pak Busyro. Acara mulai hangat, ketika Cak Nun dan Pak Busyro bergantian saling serang, saling gojek mengingat masa lalu mereka saat masih sekolah. Bahkan Pak Busyro memberi label "kiai mbeling" kepada Cak Nun. "Budayawan itu kalau disindir ndak boleh marah", kata Pak Busyro seraya disambut tawa para hadirin. Beliau melanjutkan, bahwa penegakkan hukum tidak boleh didasari atas kebencian, begitu juga menangani korupsi, maka acara dengan Tajuk "Negara Hukum, Manusia Akhlak" direncanakan diselenggarakan di beberapa kota lain. Pendekatan kepada masyrakat seperti acara tadi malam memang sepertinya akan lebih memberikan banyak manfaat, dibandingkan pemberitaan lewat media, nyatanya, media saja sudah korupsi berita. Menurut Cak Nun, hukum itu letaknya berada diluar diri manusia, yang berada didalam manusia adalah nurani dan akhlak. Jika nurani dan akhlak masih terjaga didalam diri manusia, maka sudah tidak diperlukan aparat penegak hukum, sudah tidak perlu ada polisi di sekitar lampu merah, ketika nurani dan akhlak sudah terbentuk, begitu lampu merah menyala, maka pengendara motor akan berhenti bukan karena ada pos polisi di dekat lampu merah, tapi karena nurani memberikan sinyal, bahwa lampu merah itu tandanya harus berhenti. Romo Sindhunata kemudian menyampaikan, bahwa Korupsi adalah perbuatan yang melawan nurani rakyat, korupsi adalah kejahatan kemanusiaan yang sudah sangat membahayakan di Indonesia, tiap hari bukan berkurang, malah bertambah banyak pelakunya. Menurut beliau, tnpa humanisme, maka Indonesia akan hancur. selaras dengan judul acara malam ini, bahwa Manusia Akhlak akan membangun sebuah negara yang bersih, membuat Negara Hukum menjadi lebih kuat.
Hukum itu letaknya diluar diri manusia, yang letaknya didalam diri manusia adalah nurani dan akhlak - Cak Nun
Kabareskrim, Pak Sutarman mengatakan, "KPK Lahir, karena ketidak mampuan Polisi dan Jaksa dalam menangani Korupsi", saat ini POLRI memiliki 44.000 penyidik di seluruh Indonesia, dan 97 penyidik di KPK, beliau menyadari, bahwa tidak mudah membuat mereka itu bersih, namun kita harus yakin pula, bahwa tidak semua polisi itu jelek, masih ada polisi yang benar-benar mnejalankan tugasnya dengan baik, sesuai amanah yang diberikan kepada mereka. Menurut Pak Sutarman, manusia sekarang ini keblinger, karena menjadikan uang dan jabatan sebagai tujuan hidup mereka. Sejatinya, jabatan adalah amanah, namun justru dijadikan target. Beliau mengajak para hadirin untuk bersama-sama menegakkan hukum dengan adil, jujur dan benar. Menurut Pak Dharmono, setidaknya ada 3 penyebab sesorang melakukan tindak korupsi, karena terpaksa, karena kebutuhan dan karena mentalitas. Terpaksa karena saat itu ia sedang membutuhkan dana yang besar, untuk biaya kesehatan, pendidikan atau yang lainnya, karena kebutuhan hidup, istrinya minta sesuatu, anaknya minta dibelikan ini itu, dan yang paling membahayakan adalah karena memang mentalnya sudah terbentuk mental korupsi. Yang terjadi saat ini bukan Ing Ngarso sung Tulodho, tapi justru Ing Ngarso Mumpung Kuoso, menurut Pak Dharmono, kosrupsi terjadi karena aji mumpung, mumpung berkuasa, mumpung sedang menjabat jabatan penting dan aji mumpung lainnya.

"Islam itu adalah input, outputnya adalah hubungan baik dengan sesama manusia", Cak Nun mencoba meralat salah seorang penanya yang mengatakan bahwa kriteria pemimpin harus dilihat juga dari sholatnya, ibadahnya dan lain sebagainya. Seorang aktifis Police Watch, Netapane hadir dan memberikan sebuah file data yang menunjukkan bahwa ada indikasi bahwa dana century mengalir ke RI 1 dan RI 2.

Acara semakin seru ketika Cak Nun, Pak Busyro dan Sudjiwo Tedjo saling serang gojekan. Mungkin hanya dalam acara tadi malam, seorang Busyro muqoddas dipisuhi oleh Cak Nun. Menurut Pak Busyro, faktor keluarga juga seharusnya menjadi pengawas seorang kepala keluarga dalam mencari nafkah, ketika seorang kepala keluarga pulang membawa sebuah mobil mewah atau uang yang banyak, seharusnya istri dan anak-anaknya menanyakan darimana asalnya, bukan justru mendorong untuk melakukan tindakan korupsi yang lebih besar lagi. Beliau menganalogikan, jika memiliki istri lebih dari 1, bisa jadi penyebab tindakan korupsi. Dari sektor migas, KPK baru saja menyelamatkan uang negara sebesar 156 Triliun yang sebelumnya sudah berada di luar negeri. Kemudian Cak Nun mengatakan "Kita masih optimis bahwa kita akan menuju Indonesia yang lebih baik, saya akan pasang badan, ikut bertanggung jawab jika ada apa-apa terhadap Pak Busyro".

Novia Kolopaking ft Kiai Kanjeng

Pak Chandra M Hamzah melengkapi apa yang disampaikan oleh Pak Busyro, "Yang kurang dari pemberantasan Korupsi di Indonesia adalah Niat". Tidak hanya niat dari pengak hukumnya, namun juga niat dari Presidennya, Anggota DPR-nya, menterinya dan semua elemen bangsa ini.

Acara ditutup dengan lagu "Kemesraan", seluruh narasumber bernyanyi bersama para hadirin, diiringi oleh Novia Kolopaking dan Kiai Kanjeng.

Kalau anda merasa masih kurang, silahkan searching di twitter dengan hastag #cnkkkpk , karena cukup banyak livetweet yang ramai di timeline tadi malam.