Tuesday, 22 November 2011

Garudaku, aku bangga kepadamu!

Dan kita masih harus menunggu lagi akan datangnya masa kejayaan Sepakbola kita. Timnas U 23 yang sangat kita harapkan meraih medali emas pada ajang Sea Games tahun ini, gagal. Saya tidak akan banyak mengulas tentang hal-hal teknis, karena banyak yang lebih menguasai pembahasan hal tersebut.

Mental pemain adalah salah satu faktor yang sangat mempengaruhi performa di lapangan. Titus bonai dan kawan-kawan sudah membuktikannya di lapangan. Hanya saja, mereka belum siap jika harus menyelesaikan pertandingan dengan adu pinalti. Tidak semua pemain mampu melaksanankan eksekusi tendangan pinalti, apalgi didepan puluhan ribu suporter pendukung. Tidak mudah!. Sekilas kita melihat, "hanya" sebuah tendangan dari titik putih di sebuah kotak pinalti. Namun, justru ketika 1 lawan 1 anatara eksekutor dengan kiper, disinilah pertandingan mental yang sebenarnya, mental siapa yang lebih siap, eksekutor atau kiper. Jangankan seorang gunawan atau ferdinan sinaga, Andrey Shevcenko dan Cristiano Ronaldo pun pernah gagal dalam eksekusi tendangan pinalti. Rahmad Darmawan mengaku, bahwa saat akan dilaksanakan tendangan pinalti, hanya 3 pemain yang siap melakukannya, ini sudah membuktikan bahwa pemain kita belum siap, bahkan bisa dikatakan sudah kalah mental.

Namun ada satu hal yang cukup menggangu di fikiran saya. Kenapa justru kembali oleh Malaysia kita dipecundangi di sepakbola?. Setiap pertandingan olahraga yang melibatkan antara Indonesia dan Malaysia, tidak bisa dipungkiri, isu sentimen antar negara atas konflik yang terjadi selama ini selalu menjadi bumbu. Entah siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas masalah ini, namun yang ane lihat, hal ini sangat mengganggu kosentrasi pemain, dengan dipublishnya isu sentimen karena konflik bilateral ini, secara tidak langsung mengganggu psikologis para pemain saat bertanding, mereka seperti berada dibawah tekanan "harus menang" saat melawan Tim dari Malaysia. Pertandingan sepakbola hanyalah satu contoh, dimana kita melihat pemain Malaysia tetap tenang bermain dan fokus, padahal mereka bermain dihadapan puluhan ribu suporter tim lawan. Satu  kuncinya, Mental. Mereka sangat mampu mengendalikan emosi mereka, kita tidak buta dengan yang terjadi akhir-akhir ini di ajang Sea Games, lagu kebangsaan mereka selalu dihina oleh suporter Indonesia saat dinyanyikan, ingat kawan, kita punya Indonesia raya yang juga pasti akan membuat kita marah jika lagu kebangsaan kita dihina bukan?. Seakan menjadi pelecut semangat, para pemain Malaysia tadi malam justru bermain seperti baisanya, bahkan saat mereka kebobolan di menit-menit awal, mereka tidak panik, mereka sabar menunggu waktu yang tepat untuk bisa menembus pertahanan Indonesia, dan itu berhasil di menit-menit setelahnya.

Dan semua itu sudah berlalu, kalah atau menang dalam sebuah pertandingan itu hal yang biasa, tidak mungkin tidak ada yang menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan. Bahwa kita merindukan kejayaan sepakbola Indonesia, iya. Namun kita masih harus bersabar, ingat, bahwa Timnas U 23 dibawah asuhan RD hanya disiapkan selama 3 bulan saja dengan sedikit laga uji coba, Malysia membangun Timnas U 23 selama 2 tahun yang lalu, pasca Medali emas yang mereka raih di Sea Games 2009. Dan Timnas U 23 Indonesia berhasil menembus Final. Ini tidak buruk, sangat sedih memang melihat kenyataan bahwa kita ahrus kembali melihat Malaysia menjadi Juara di kandang kita.

Bagi saya, Egi Melgiansyah dan kawan-kawan adalah para pahlawan pemersatu bangsa. Mereka berjuang di lapangan hijau selama ajang sea games kali ini, mereka mempersatukan Sabang samapai Merauke, mereka berjuang atas nama bangsa, mereka berjuang demi mengharumkan Indonesia. Saya bangga kepada kalian kawan!!. Teruslah bermain bola, masih ada kompetisi yang lain di depan kalian, masih ada Piala AFF, masih ada Piala Asia, masih ada Piala Dunia 2018 yang bisa menjadi pembuktian kalian. Teruslah bermain bola untuk Indonesia.

0 komentar: