Saturday, 19 November 2011

Belajar dari Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah

Kita harus berani mengkhalifahi diri kita sendiri, dan harus mampu menertawakan diri kita sendiri  - Cak Nun
Kita harus khawatir jika kita sudah kehilangan ketahanan dalam berfikir, ketahanan spiritual, ketahanan dalam berlogika, Contoh teranyar adalah saat laga pamungkas Group A penyisihan Sea Games Indonesia vs Malaysia kamis, 17 November 2011. Indonesia yang sudah memastikan diri melaju ke babak semi final melawan Malaysia yang masih membutuhkan minimal 1 poin untuk bisa lolos ke babak semi final. Rahmad Darmawan, sang arsitek Timnas Indonesia memasang pemain lapis kedua untuk melawan Malaysia yang turun dengan kekuatan penuh karena mereka membutuhkan poin. Ekspektasi supporter Indonesia berbanding terbalik dengan skenario Rahmad Darmawan, Coach RD memasang pemain lapis kedua, karena kalah atau menang, Indonesia sudah memegang tiket semi final, sehingga tidak akan berpengaruh, dan di hari-hari sebelumnya, RD sudah mengatakan, bahwa para pemain harus siap untuk melawan Vietna atau Myanmar di babak semi final. Nah, jika kita tidak bisa memahami apa yang ada di fikiran RD, maka hasil akhir kekalahan 0-1 yang dialami Indonesia akan sangat mengecewakan. Namun jika kita berfikir rasional, apa yang diskenariokan oleh RD malam itu adalah memberikan kesempatan untuk pemain lapis kedua agar merasakan atmosfir pertandingan internasional. Secara psikologis ini sangat menguntungkan bagi Indonesia. Terbukti, permainan para Garuda lapis kedua tidak mengecewakan, hanya kecolongan 1 gol di babak pertama. Satu hal lagi, lini belakang Malaysia adalah para pemain yang bermain saat piala AFF tahun lalu.

Setiap kita mengalami kesedihan, maka kita harus memiliki kecerdasan dalam memahami kesedihan yang kita alami - Cak Nun

Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah yang diberikan kepada beberapa orang yang terpilih adalah untuk meneguhkan 5 prinsip nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai tersebut adalah :
  • Kebenaran
  • Kesungguhan
  • Otensitas
  • Kesetiaan
  • Keikhlasan
Orang-orang yang mendapatkan kehormatan diberikan Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah adalah mereka yang memegang 5 nilai kehidupan itu sendiri. Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah tidak diberikan bagi mereka yang memiliki keunggulan profesional. Karena dalam Maiyah, manusia tidak perlu mengungguli sesama manusia. Mayoritas manusia saat ini sedang bahkan sudah mengalami puncak kebobrokan dan kebusukan karena mereka terperdaya oleh pilihan mereka sendiri, mereka tertipu oleh kebanggaan mereka sandiri, terbentur dan terjerembab didalam apa yang mereka unggulkan dan yang mereka banggakan. Maiyah menemukan bahwa salah satu jenis kehancuran yang mendasar yang sedang kita alami secara nasional dan sebentar lagi akan berada di titik puncak kehancuran itu sendiri adalah, bahwa dimanapun manusia berada, sebagai apapun ia, perilakunya semakin memiliki kecenderungan untuk tidak bermaksud sesuai dengan kosakata yang termakna dari kosakata tersebut. Saat ini kita melihat "manusia", tapi mereka bisa seperti "hewan", "setan", atau "benda". "Masyarakat" yang dimaksud saat ini sangat bias, yang bisa saja berarti "penduduk", "gerombolan", atau bahkan tidak ada perbedaannya dengan "ummat", "kaum", "bangsa" atau "suku". "Negara" saat ini pada kenyataanya adalah "Perusahaan". dan masih banyak lagi kosakata-kosakata yang tidak sesuai dengan makna aslinya.


Mereka yang mendapatkan Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah adalah mereka yang membuktikan konsistensi mereka dalam memegang teguh 5 nilai kehidupan diatas. Kita melihat Bunda Cammana adalah Bunda Cammana yang konsisten berdakwah puluhan tahun dengan metode yang ia pilih. Cak Kartolo adalah Cak Kartolo yang tidak pernah menjadi orang lain dalam menekuni bidangnya. Begitu juga Pak Joko Temon, ia adalah Joko Temon yang sesungguhnya.

Apa yang bisa kita ambil dari mereka?. Lima nilai dasar yang menjadi "Passing Grade" Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah adalah nilai-nilai kehidupan yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan kita. Kita melihat banyak sekali manusia yang hancur, gagal atas apa yang dijalaninya, karena mereka tidak memiliki Kebenaran, tidak Sungguh-sungguh, tidak memiliki Otensitas, tidak Setia dan tidak Ikhlas dalam menjalani apa yang mereka pilih.

Setiap hari, bahkan setiap waktu, kita harus mampu dan berani membunuh diri kita sendiri dan melahirkan diri kita yang baru - Cak Nun

Kalau disebut ‘manusia’, ternyata bisa berarti ‘hewan’, ‘setan’ atau ‘benda’.
Kalau diucapkan ‘masyarakat’, yang dimaksud bias ‘penduduk’, ‘gerombolan’, juga tidak diurus perbedaannya dengan ‘ummat’, ‘kaum’, ‘bangsa’ atau ‘suku’.
Dikatakan ‘Negara’, padahal kenyataannya ‘Perusahaan’.
Dibilang ‘Demokrasi’ faktanya ‘Jebakan’.
Disebut ‘Agama’, maksud tersembunyinya adalah ‘Komoditas’.
Diumumkan kata ‘Umroh’, maksud aslinya adalah ‘Money Laundring’.
Dipidatokan ‘Pembangunan’, kandungannya adalah ‘Pegadaian’.
Diorasikan ‘Kemajuan’, prakteknya adalah ‘Kemacetan’.
Membangga-banggakan ‘Kesejahteraan’ tanpa menyebutkan bahwa itu tidak dimaksudkan untuk rakyat.
Menuturkan ‘Keadilan’, tidak ada ilmunya, sehingga tak ada pula kenyataannya.
Kita pikir ‘Pemerintah’, ternyata Buruh yang berlaku Juragan.
Ngomongnya politik, ternyata yang dimaksud adalah Penipuan.
Yang dimaksud ‘Nabi’ adalah Dukun
Yang dimaksud ‘Malaikat’ adalah adalah Peri
Yang dimaksud ‘Tuhan’ adalah Artis.


Sabrang Mowo Damar Panuluh

Oleh-oleh Maiyah Mocopat Syafaat 17 November 2011 dan cuplikan dari "Kalam Maiyah"

2 komentar:

rejected zone said...

PERTAMAX
WEH GAN MAIYAHAN ENTE GAK SIA SIA KEK NYA KLO BISA NGERESUME SEGINI

zaenal blog said...

Mantabb Gan....
pertamax...