Friday, 21 October 2011

Oleh-oleh Maiyyahan Mocopat Syafaat 17 Oktober 2011

Seperti biasanya, Mocopat Syafaat diawali dengan tadarus al-qur’an, setelah tadarrus beberapa bulan terakhir selalu ada bintang tamu yang ikut menampilkan karya seni di Mocopat Syafaat, malam itu hadir Komuinitas Musik Sobaya yang ikut manggung.
Kiai Tohar a.k.a Gus Dob naik kepanggung bersama mas Helmi yang diminta membacakan review Kenduri Cinta dan Padhangmbulan bulan Oktober, yang pertama adalah tentang kalimah thoyyibah di surat Ibrahim ayat 24-27. Kalimah Thoyyibah itu bagaikan sebuah Pohon yang akarnya menghujam ke dalam bumi dan ujung pohonnya menjulang ke langit. Kemudian pembahasan tentang surat Al Anfal ayat 60, tafsiran Cak Fuad di Padhangmbulan tentang sebuah kata “turhibuuna”, kata tersebut mengingatkan tentang sebuah film dokumenter sekitar tahun 2008 silam, film yang berjudul “fitna”, dimana pembuat film tersebut salah menafsirkan kata “turhibuuna”, dalam film tersebut diartikan sebagai teror, padahal tafsiran sebenarnya adalah menggetarkan semangat, menggalang pertahanan, untuk menjadikan musuh Islam segan dengan Islam, bukan takut dengan Islam.
Sesi selanjutnya adalah presentasi Dr. Heinrich Melcher, Doktor ahli Biologi, asli Jerman dan sudah n terbarunya adalah penemuan obat tetes mata yang merupakan hasil pengolahan dari biji Keben yang ada di Papua, mampu mengobati berbagai macam penyakit dan kelaianan mata. Tetes mata Radix Vitae. Penelitian terhadap biji keben ini dimulai sejak tahun 2003, dan pengolahannya menggunakan teknologi Deep Freezing System yang merupakan teknologi Jerman. Uniknya, hanya biji keben yang ada di Papua yang bisa diolah menjadi tetes mata ini.
Sesi selanjutnya adalah sebuah presentasi dari teman-teman Bangbang Wetan, dimana pada bulan November diamanahi melaksanakan sebuah Event Besar Jama’ah Maiyyah Nusantara, yaitu pemberian Ijazah Maiyyah Nusantara kepada beberapa orang yang dinilai layak mendapatkan Ijazah Maiyyah. Acara ini akan dihelat di Taman Budaya Suarabaya tanggal 14 November 2011, yang juga akan dihelat Konser Kiai Kanjeng dan Kesenian Sholawat Mandar.
Ada 3 orang yang akan diberi Ijazah Maiyyah ini, yaitu Bunda Cemanna dari Mandar atas eksistensinya berdakwah melalui kesenian sholawat mandar, kemudian ada Cak Kartolo atas eksistensinya dalam melestarikan seni parikan jawa, yang ketiga adalah Pak Joko Temon atas eksistensinya dalam melakukan pengabdian di bidang kesehatan.
Ada lima parameter pemberian Ijazah Maiyyah ini kepada orang-orang tersebut diatas :
Kesungguhan-Kualitas-Kesetiaan-Otensitas-Keikhlasan
Setelah beberapa nomor dimainkan oleh Kiai Kanjeng, berurutan Cak Nun, Cak Mustofa W Hasyim, Gus Candra Malik dan Gus Yusuf naik ke panggung. Seperti biasanya, Cak Nun mengajak seluruh Jama’ah Maiyyah untuk berdzikir dan bersholawat, kemudian Cak Nun mengajak seluruh jama’ah untuk membaca surat yasiin. Setelah itu, Kiai Kanjeng membawakan sebuah nomor “Duh Gusti”.
Kemudian Gus Yusuf memberikan beberapa uraian yang ia alami di tempat dakwahnya, bahwa masyarakat masih belum bisa melepaskan tradisi kejawen, seperti membakar kemenyan dan lain sebagainya. Sehingga, diperlukan dakwah yang lain untuk menjelaskan tradisi kejawen yang tidak boleh dilaksanakan. Kalau hanya sebatas membakar kemenyan, kenapa kemudian dikatakan haram? Wong Cuma mbakar kemenyan kok, kalau mbakar rumah orang baru tidak boleh, bisa dilaporkan ke polisi. Zaman sekarang, orang boros takbir, kalau zaman belanda takbir digunakan untuk membuat nyali belanda ciut, namun zaman sekarang, takbir dibunakan untuk sweeping orang makan siang di bulan ramadhan. Bahkan seorang ustadz diajak salaman kok kemudian ditanya dalilnya apa?. Apa susahnya berjabat tangan, kemudian dicium tangannya?, kok perlu dijelaskan dalilnya apa. Bagi orang desa, hal-hal seperti ini adalah hiburan bagi mereka. Tinggal bagaimana kita menjelaskannya dengan cara yang halus, bukan dengan cara yang radikal. Cak Nun menambahkan penjelasannya, bahwa batas syirik adalah pada niatnya, bukan bendanya, jangankan bakar kemenyan, bakar rambut sendiri kalau niatnya syirik, dosa. Sama halnya dengan bid’ah, bid’ah itu batasannya pada ibadah mahdhoh, kalau habis sholat kemudian salaman, itu bukan bid’ah, jangankan salaman, habis sholat terus makan juga boleh kok. Tandanya Islam itu adalah bagusnya akhlaq, bukan kuantitas ibadah. Akhlaq adalah output dan Ibadah adalah inputnya.
Kemudian Gus Candra Malik diminta Cak Nun untuk melengkapi uraian yang sudah dipaparkan, beliau menggarisbawahi bahwa Islam adalah Rahmatan lil ‘alamiin, bukan hanya lil muslimin atau lil mu’minin saja. Selama kita hanya melindungi orang Islam saja, maka kita belum Rahmatan lil ‘alamiin, Gus Candra mengaitkan dengan surat Al Ashr, bahwa dalam ayat tersebut bukan hanya orang islam yang merasa merugi, tapi seluruh manusia di dunia, bahkan Allah menyindir orang-orang yang sholat dalam ayat yang lain “fawailul lil mushollin”. Rasulullah dalam sebuah haditsnya juga menyindir orang yang berpuasa, mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga.  Kita seringkali shodaqoh, zakat, infaq bahkan qurban, yang muncul dalam perasaan kita adalah berkurangnya harta kita. Orang yang berangkat Haji, Allah berfirman bahwa Haji adalah bagi yang mampu, namun seharusnya orang yang melaksanakan Ibadah Haji tetap harus merasa tidak mampu. Berangkat Haji benar-benar karena terpanggil menjadi tamu allah, bukan merasa jadi tamunya Allah, akibatnya pulang Ibadah Haji tidak mau dipanggil namanya kalau tidak ada embel-embel “Haji”.  Iman itu berada di dalam hati kita, iman ibaratnya adalah fondasi diri kita. Sesuatu yang paling kuat, namun keberadaannya tersembunyi, tidak ditunjuk-tunjukkan. Berbuat baik, harus merasa bahwa seolah-olah Allah melihat kita, kita diajarkan memberi dengan tangan kanan, tangan kiri jangan samapai melihat. Menyampaikan kebenaran dan mengingatkan kesabaran. Yang benar hanyalah Allah swt, apa yang disampaikan manusia bisa saja salah, bahkan banyak salahnya. Kita harus selalu saling mengingatkan untuk sabar. Yang jadi Cak Nun harus sabar, yang jadi gus Yusuf harus sabar, yang jadi pedagang juga harus sabar. Kemudian Gus Candra Malik menjadi “penyanyi tiban”, membawakan dua buah lagu yang diciptakan olehnya “Shirotol Mustaqiim” dan “Jiwa yang tenang”.
Syair lagu “shirotol mustaqiim” Gus Candra Malik kemudian diminta oleh Cak Nun untuk dianalisis oleh Cak Mustofa W Hasyim, sang penyair “rusak-rusakan”. Menurut Cak Nun, Filsafat itu adalah tulang belulang kehidupan, dan nuansa hidup terletak dalam urat syaraf yang sifatnya sangat halus, maka jangan terlalu berlebihan dalam berfilsafat. Kenapa ubun-ubun kita dulu waktu kecil jika diraba tidak sekeras tulang yang lainnya, ini merupakan salah satu isyarat Allah. Man ‘arofa nafsahu, faqod ‘arofa robbahu. Sekarang ini diterjemahkan dengan identitas, say ini sarjana, saya ini islam, saya ini jawa dll. Itu tafsiaran kuantitas bukan kualitas. Gus Candra Malik menambahkan, kalau kita ingin mengenal Allah itu muluk, mengenal diri itulah suluk. Untuk mengenal diri sendiri, kita bisa belajar dari Polisi saat melakukan olah TKP dalam sebuah kasus. Kita bisa melakukan olah TKP dalam diri kita, setidaknya adal 3 hal, yang pertama adalah tanggal lahir kita, itu adalah bukti otentik yang pertama, kemudian adalah tempat lahir kita, dimana lahir kita, yang ketiga adalah dari mana kita lahir, kita lahir dari rahim ibu kita, maka ritual tradisi sungkeman saat kita lebaran, kita sungkem ke Ibu kita menghadap ke rahim ibu kita.
Seperti biasa, Cak Mustofa adalah “lakon utama” dalam Maiyyah Mocopat Syafaat, membawakan syair-syair “rusak”-nya yang menghibur jama’ah maiyyah hingga membuat tertawa terpingkal-pingkal.
Peribahasa yang retak makna...
Ada gula ada semut, ah itu biasa,, <<--yang tidak biasa adalah ada gula ada munyuk...
Burung dara terbang dikejar, burung puyuh sepuluh ditangan, dilepaskan <<-Goblok.. kenapa nggak dibakar aja puyuhnya, kan bisa kenyang....
Berat sama dipikul, ringan sama dilemparkan..<<-- tidak bertanggung jawab
Apa beda tahu sama tempe???, <<--kalau Tahu bisa menghasilkan tempe gembus, sedangkan tempe tidak bisa menghasilkan tahu gembus....
Berakit-rakit kehulu, berenang-renag ketepian..<<-- pekerjaan nelayan...
Jauh panggang dari api...<<-- Ayam bakarnya kapan matangnya???
Tong kosong nyaring bunyinya <<-- karena memukul Tong-nya keras sekali...
Setali tiga uang, sejuta tinggal hutang, setrilyun tinggal korupsi <<-- Brengsek!!!
Habis manis sepah dibuang <<-- kalau sepahnya ditelan juga, selain rakus, malah menyebabkan keselek....
 
Setelah Cak Mustofa, Kiai Kanjeng menampilkan sebuah nomor hasil aransemen mas Ari Blothong, violis Kiai Kanjeng yang diaransemen untuk thesis S2 beliau, “Ajar, Ajur, Ajer”.
Maiyyah malam itu ditutup dengan ‘indal qiyam yang diiringi “shohibu baiti”.

2 komentar:

Rizky said...

thankz mas... puisine cak mus bikin ngguyu2 dhewe, hehe

Anonymous said...

terima kasih reportasenya mas,kalo ada videonya mohon di upload youtube!barakallah.