Monday, 1 August 2011

Urip iku mampir ngombe

Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mendengar sebuah kalimat "Urip iku mampir ngombe". Yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih adalah "Hidup itu mampir untuk minum". Aku sendiri mendengar kalimat ini dari budayawan Emha Ainun Nadjib atau lebih dikenal dengan Cak Nun.

Cak Nun, seorang budayawan terkemuka di Indonesia, budayawan yang sudah senior, layaknya budayawan lainnya, sesuatu yang ia ucapkan sangatlah memberi makna yang dalam, setiap kali Ma'iyyah, apa yang diucapkan oleh beliau memiliki makna yang sangat dalam, walaupun tidak bisa dipetik ilmunya saat itu, mungkin setelah berhari-hari baru kita bisa memahaminya.

Urip iku mampir ngombe, hidup di dunia hanya mampir untuk minum, ya hanya untuk minum, bukan untuk makan, tidur, mandi, apalagi sampai bermalam. Hidup di dunia ini hanya sementara, secara harfiah kata "minum" dalam bahasa jawa adalah minum bir, arak, atau minuman keras lainnya yang memabukkan. Kata bijak bahasa jawa ini menjelaskan bahwa kita hidup di dunia itu ya memang untuk "minum", bukan untuk "wedhangan", kita bukan Sayyidina Ali r.a, yang telah berikrar mentalak tiga kepada dunia, beliau pernah berkata "Wahai dunia, aku telah mentalak tiga kepadamu, silahkan perdayai selain aku, dan jangan tunggu aku untuk menikahimu, karena aku sudah menentukan istriku, yaitu Allah swt", kurang lebih begitu Sayyidina Ali pernah berkata, bagaimana beliau sudah tidak perduli dengan dunia dan seisinya.

Namun tidak demikian dengan kita sekarang, kita sangat mencintai apa yang ada di dunia, lautan, hutan, mall, bioskop, cafe, kuliner,  televisi dan lain sebagainya. Akan tetapi, endingnya tetaplah sama, jangan sampai kita mau melamar bahkan sampai menikahi dunia, sehingga kita berat untuk meninggalkan dunia, dan itulah yang terjadi saat ini, betapa banyak manusia yang sudah menikahi dunia dengan korupsi, melupakan tuhannya, lebih cinta dunia daripada akhirat.

Bukan berarti manusia saat ini tidak bisa berikrar seperti Sayyidina Ali r.a yang sudah mentalak tiga kepada dunia dan sudah tidak perduli dengan dunia, pasti ada manusia yang sanggup seperti beliau, namun hanya sedikit yang mampu.

Sekalipun kita cinta kepada dunia, kita minum (ngombe)  di dunia ini, jangan sampai kita mabuk kepayang, jangan sampai kita overdosis, sehingga pada akhirnya kita justru mengalami ketergantungan kepada dunia.

0 komentar: