Wednesday, 17 August 2011

Saksi Sejarah

Senin, 15 Agustus 2011, aku mendapat kesempatan yang luar biasa bisa bertemu dengan salah seorang saksi sejarah Madiun Affair 1948, beliau adalah seorang alumni Gontor tahun 1954, beliau pula yang turut serta dalam pelaraian K.H. Ahmad Sahal, bahkan beliau ikut ditahan oleh PKI saat itu, beliau adalah Ust. Khudori Kasban.

Pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya, karena tujuan awal adalah silaturrahmi ke rumah salah seorang ustadz mu'allimin di Kediri, tanpa diduga ayahnya adalah seorang saksi sejarah tersebut, umurnya sekitar 80 tahun, namun badannya masih tegap berdiri, bahkan berbicara masih lancar dan ia tidak menggunakan kacamata bantu untuk melihat, meskipun aku melihat sebuah kacamata di meja, namun sepertinya hanya digunakan saat ia menulis atau membaca saja mungkin.

Obrolan aku dengan beliau diawali dari sebuah obrolan ringan, bercerita tentang Gontor lama yang ia alami, kemudian ia membandingkan dengan Gontor saat ini, tentunya dari kacamata seorang alumni yang sudah hidup diluar pondok, beliau menceritakan kekaguman yang luar biasa terhadap K.H Ahmad Sahal, salah satu yang ia ceritakan adalah tentang sebuah peristiwa yang terjadi saat beliau bersama K.H. Ahmad Sahal ditahan oleh PKI, suatu ketika, ada seorang PKI yang membawa sebuah senjata (aku lupa namanya, sejenis parang kalau tidak salah), diacungkan ke surban Pak Sahal, apa yang terjadi? Seketika itu, Surban yang berada di kepala Pak Sahal menyala, mengeluarkan sebuah cahaya yang sangat cerah. Subhanallah. Dan beliau membenarkan, bahwa K.H. Ahmad Sahal adalah sosok kyai yang memiliki karomah yang luar biasa, bahkan menurut beliau, apa yang diucapkan oleh Pak Sahal, Insya Allah menjadi kenyataan di masa yang akan datang. Salah satu ucapan Pak Sahal yang beliau ingat adalah, "Siapa tahu Gontor menjadi seperti sebuah Kota yang ramai??!",, Subhanallah, kita bisa melihat keadaan Gontor saat ini, banyak gedung bertingkat, memiliki banyak amal usaha, bahkan kalau boleh aku mengatakan, Gontor adalah sebuah negara mini, dimana disana ada pemerintahan, ada peraturan yang berlaku dan ada penduduknya.

Beliau menyebutkan beberapa nama yang menjadi teman beliau saat di Gontor dulu, diantaranya adalah Ust. Imam Subakir, dan alm. Ust. Imam Badri. Beliau tampak menceritakan pengalaman hidupnya kala itu dengan berkaca-kaca, bahkan meneteskan airmata.

Beliau bercerita bahwa dahulu gerakan-gerakan pemuda lahir di Gontor, salah satunya adalah PII, Pelajar Islam Indonesia, yang konon kata beliau, gerakan ini pernah bertujuan untuk meng-NU kan Kalimantan, selain PII banyak sekali gerakan pemuda di Gontor yang berdiri saat itu, maka puncak dari lahirnya gerakan-gerakan tersebut adalah peristiwa 19 Maret 1967, yang mana pada peristiwa tersebut, seluruh santri diusir dari pondok, karena ada semacam gerakan yang ingin mengkudeta kepemimpinan Trimurti saat itu.

Kehidupan beliau dirumahnya sangtalah sederhana, beliau tidak tinggal di rumah yang mewah, tidak memiliki mobil yang mewah, beliau memiliki 13 anak dan sekitar 30 cucu, beliau sangat mengagumi Pak Sahal, bahkan beliau mengikuti apa yang sudah dilakukan Pak Sahal terhadap Gontor, yaitu mewakafkan seluruh asetnya untuk ummat, begitu juga beliau, seluruh aset tidak diwariskan kepada anak-anaknya, melainkan beliau wakafkan kepada keluarga, sehingga anak-anaknya tidak akan bisa berebut aset kekayaan tersebut, beliau menjelaskan alasannya, karena beliau ingin, anak-anaknya setiap tahun tetap berkumpul di kampung halaman, sehingga suatu saat ketika beliau dan istrinya sudah meninggal, namun anak-anaknya tetap selalu berkumpul di kampung halaman. Subhanallah.

Banyak sekali falsafah hidup Pak Sahal yang dijadikan beliau sebagai pegangan hidup, pesan lain Pak Sahal yang beliau hafal betul adalah "Jangan menjadi Pegawai!!",, Dan pesan tersebut beliau laksanakan, beliau pukan seorang pensiunan PNS, bukan pula pensinunan militer, namun beliau hanyalah petani tebu yang sangat sederhana hidupnya, 13 anak-anaknya beliau sekolahkan semampunya, namun kehidupan anak-anaknya bisa dikatakan tidak dalam keadaan kekurangan, tidak kaya memang secara harta, namun cukup secara materi.

Salah satu pengalaman pribadinya dari anaknya adalah, ketika salah seorang anaknya ingin bersekolah S2 namun tujuannya bukan karena mencari Ilmu, melainkan agar pangkat golongan PNS nya naik, seketika itu beliau langsung marah kepada anaknya dan mengatakan "Kalau yang kau cari adalah Jabatan, tidak usah kau kejar itu gelar S2, tapi kalau memang niatmu adalah mencari Ilmu, silahkan lanjutkan sekolahmu!". Subhanallah.

Sayang sekali, aku hanya berada di rumah beliau sekitar 45 menit saja, sehingga sangat sedikit sekali yang aku dapatkan dari beliau. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan. Aamiin...

0 komentar: