Sunday, 21 August 2011

Sayang Padaku

Duka derita duka lara ku di dunia, tidaklah aku sesali, juga tak akan aku tangisi....
Sesakit apa pun yang ku rasakan dalam hidupku, semoga tak membuatku kehilangan jernih jiwaku...

Andai kan dunia mengusir aku dari buminya, tak akan aku merintih, juga tak akan aku mengemis...
Ketidak adilan yang di timpakan manusia, bukanlah alasan bagiku untuk membalas nya..

Asalkan karena itu Tuhan menjadi sayang padaku oooo....
Segala kehendakNya menjadi syurga bagi cintaku....

Bukanlah apa kata manusia yang ku ikuti
Tetapi pandangan Allah tuhanku yang ku takuti

Ada tiada ku semata-mata milik Nya jua
Ada tiada ku semata-mata milik Nya jua




(Sayang Padaku - Novia Kolopaking and Kiai Kanjeng)

Friday, 19 August 2011

Pernikahan Adalah......

Setidaknya ada 4 macam pernikahan yang ada di dunia ini,
1. Pernikahan antara Allah swt dengan hambanya.
Allah swt menciptakan jin dan manusia sejatinya adalah untuk beribadah, dimana Allah swt memberikan banyak sekali anugerah kepada makhluk yang Dia ciptakan di dunia ini. Allah swt tidak akan mewajibkan sesuatu kepada manusia sebelum Allah memberikan fasilitasnya. Contoh kecil adalah sholat. Allah tidak mewajibkan seorang anak kecil yang belum baligh untuk sholat, namun ketika fasilitas yang menjadi syarat dan rukun sholat itu sudah diberikan oleh Allah swt, maka wajiblah bagi seorang manusia untuk mendirikan sholat, fasilitas itu bisa macam-macam jenisnya, bisa kesehatan, bisa pakaian, bisa akal, dan yang lainnya. Begitu juga dengan ibadah yang lain seperti Zakat, Puasa, dan Haji. Sebelum mencapai nishab, maka kita tidak diwajibkan untuk berzakat, sebelum dewasa, maka seorang muslim belum diwajibkan untuk puasa, dan sebelum "mampu", kita juga tidak diwajibkan untuk melaksanakan ibadah Haji.

2. Pernikahan antara manusia dengan alam semesta.
Manusia dan alam semesta seisinnya sudah sewajarnya "menikah", saling menjaga dan saling melengkapi. Bukan malah saling menyakiti satu sama lain, yang terjadi saat ini, justru manusia lebih sering menyakiti alam semesta ini, mulai dari pembalakan liar yang mengakibatkan penggundulan hutan, semakin banyaknya alat elektronik sehingga sebuah sebutan Global Warming muncul sekarang, sehingga bermunculan berbagai gerakan untuk menyelamatkan Bumi. Disaat manusia ada yang menyakiti Bumi, manusia yang lain tetap menyayangi Bumi dengan caranya sendiri-sendiri.

3. Pernikahan antara Raja (pemimpin/pemerintah) dengan rakyatnya.
Hakikat pernikahan antara Raja dengan rakyatnya juga hampir sama, ketika Raja sudah memberikan fasilitas kepada para rakyatnya, maka rakyat juga berkewajiban memenuhi kewajibannya sebagai rakyat, mulai dari menaati peraturan dan perundang-undangan, membayar pajak, menjaga keutuhan dan kedaulatan sebuah kerajaan (pemerintahan), menjaga rahasia negara dan lain sebagainya. Sayangnya, saat ini lebih sering terjadi kebalikannya, Rakyat diminta memenuhi kewajibannya sebagai rakyat, namun sang Raja tidak memberikan fasilitas kepada rakyatnya.

4. Pernikahan antara Laki-laki dengan perempuan.
Inilah pernikahan antara dua manusia untuk membangun sebuah "negara" kecil, bernama Keluarga. Pernikahan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan merupakan salah satu sunatullah, dimana antara suami istri akan saling melengkapi dalam membangun sebuah keluarga.

Wednesday, 17 August 2011

Fahamilah!!!!

Allah swt di dalam Al Qur'an memposisikian diriNya sebagai  Dia, Kamu dan Saya. Fahamilah!!!

Saksi Sejarah

Senin, 15 Agustus 2011, aku mendapat kesempatan yang luar biasa bisa bertemu dengan salah seorang saksi sejarah Madiun Affair 1948, beliau adalah seorang alumni Gontor tahun 1954, beliau pula yang turut serta dalam pelaraian K.H. Ahmad Sahal, bahkan beliau ikut ditahan oleh PKI saat itu, beliau adalah Ust. Khudori Kasban.

Pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya, karena tujuan awal adalah silaturrahmi ke rumah salah seorang ustadz mu'allimin di Kediri, tanpa diduga ayahnya adalah seorang saksi sejarah tersebut, umurnya sekitar 80 tahun, namun badannya masih tegap berdiri, bahkan berbicara masih lancar dan ia tidak menggunakan kacamata bantu untuk melihat, meskipun aku melihat sebuah kacamata di meja, namun sepertinya hanya digunakan saat ia menulis atau membaca saja mungkin.

Obrolan aku dengan beliau diawali dari sebuah obrolan ringan, bercerita tentang Gontor lama yang ia alami, kemudian ia membandingkan dengan Gontor saat ini, tentunya dari kacamata seorang alumni yang sudah hidup diluar pondok, beliau menceritakan kekaguman yang luar biasa terhadap K.H Ahmad Sahal, salah satu yang ia ceritakan adalah tentang sebuah peristiwa yang terjadi saat beliau bersama K.H. Ahmad Sahal ditahan oleh PKI, suatu ketika, ada seorang PKI yang membawa sebuah senjata (aku lupa namanya, sejenis parang kalau tidak salah), diacungkan ke surban Pak Sahal, apa yang terjadi? Seketika itu, Surban yang berada di kepala Pak Sahal menyala, mengeluarkan sebuah cahaya yang sangat cerah. Subhanallah. Dan beliau membenarkan, bahwa K.H. Ahmad Sahal adalah sosok kyai yang memiliki karomah yang luar biasa, bahkan menurut beliau, apa yang diucapkan oleh Pak Sahal, Insya Allah menjadi kenyataan di masa yang akan datang. Salah satu ucapan Pak Sahal yang beliau ingat adalah, "Siapa tahu Gontor menjadi seperti sebuah Kota yang ramai??!",, Subhanallah, kita bisa melihat keadaan Gontor saat ini, banyak gedung bertingkat, memiliki banyak amal usaha, bahkan kalau boleh aku mengatakan, Gontor adalah sebuah negara mini, dimana disana ada pemerintahan, ada peraturan yang berlaku dan ada penduduknya.

Beliau menyebutkan beberapa nama yang menjadi teman beliau saat di Gontor dulu, diantaranya adalah Ust. Imam Subakir, dan alm. Ust. Imam Badri. Beliau tampak menceritakan pengalaman hidupnya kala itu dengan berkaca-kaca, bahkan meneteskan airmata.

Beliau bercerita bahwa dahulu gerakan-gerakan pemuda lahir di Gontor, salah satunya adalah PII, Pelajar Islam Indonesia, yang konon kata beliau, gerakan ini pernah bertujuan untuk meng-NU kan Kalimantan, selain PII banyak sekali gerakan pemuda di Gontor yang berdiri saat itu, maka puncak dari lahirnya gerakan-gerakan tersebut adalah peristiwa 19 Maret 1967, yang mana pada peristiwa tersebut, seluruh santri diusir dari pondok, karena ada semacam gerakan yang ingin mengkudeta kepemimpinan Trimurti saat itu.

Kehidupan beliau dirumahnya sangtalah sederhana, beliau tidak tinggal di rumah yang mewah, tidak memiliki mobil yang mewah, beliau memiliki 13 anak dan sekitar 30 cucu, beliau sangat mengagumi Pak Sahal, bahkan beliau mengikuti apa yang sudah dilakukan Pak Sahal terhadap Gontor, yaitu mewakafkan seluruh asetnya untuk ummat, begitu juga beliau, seluruh aset tidak diwariskan kepada anak-anaknya, melainkan beliau wakafkan kepada keluarga, sehingga anak-anaknya tidak akan bisa berebut aset kekayaan tersebut, beliau menjelaskan alasannya, karena beliau ingin, anak-anaknya setiap tahun tetap berkumpul di kampung halaman, sehingga suatu saat ketika beliau dan istrinya sudah meninggal, namun anak-anaknya tetap selalu berkumpul di kampung halaman. Subhanallah.

Banyak sekali falsafah hidup Pak Sahal yang dijadikan beliau sebagai pegangan hidup, pesan lain Pak Sahal yang beliau hafal betul adalah "Jangan menjadi Pegawai!!",, Dan pesan tersebut beliau laksanakan, beliau pukan seorang pensiunan PNS, bukan pula pensinunan militer, namun beliau hanyalah petani tebu yang sangat sederhana hidupnya, 13 anak-anaknya beliau sekolahkan semampunya, namun kehidupan anak-anaknya bisa dikatakan tidak dalam keadaan kekurangan, tidak kaya memang secara harta, namun cukup secara materi.

Salah satu pengalaman pribadinya dari anaknya adalah, ketika salah seorang anaknya ingin bersekolah S2 namun tujuannya bukan karena mencari Ilmu, melainkan agar pangkat golongan PNS nya naik, seketika itu beliau langsung marah kepada anaknya dan mengatakan "Kalau yang kau cari adalah Jabatan, tidak usah kau kejar itu gelar S2, tapi kalau memang niatmu adalah mencari Ilmu, silahkan lanjutkan sekolahmu!". Subhanallah.

Sayang sekali, aku hanya berada di rumah beliau sekitar 45 menit saja, sehingga sangat sedikit sekali yang aku dapatkan dari beliau. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan. Aamiin...

Monday, 1 August 2011

Urip iku mampir ngombe

Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mendengar sebuah kalimat "Urip iku mampir ngombe". Yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih adalah "Hidup itu mampir untuk minum". Aku sendiri mendengar kalimat ini dari budayawan Emha Ainun Nadjib atau lebih dikenal dengan Cak Nun.

Cak Nun, seorang budayawan terkemuka di Indonesia, budayawan yang sudah senior, layaknya budayawan lainnya, sesuatu yang ia ucapkan sangatlah memberi makna yang dalam, setiap kali Ma'iyyah, apa yang diucapkan oleh beliau memiliki makna yang sangat dalam, walaupun tidak bisa dipetik ilmunya saat itu, mungkin setelah berhari-hari baru kita bisa memahaminya.

Urip iku mampir ngombe, hidup di dunia hanya mampir untuk minum, ya hanya untuk minum, bukan untuk makan, tidur, mandi, apalagi sampai bermalam. Hidup di dunia ini hanya sementara, secara harfiah kata "minum" dalam bahasa jawa adalah minum bir, arak, atau minuman keras lainnya yang memabukkan. Kata bijak bahasa jawa ini menjelaskan bahwa kita hidup di dunia itu ya memang untuk "minum", bukan untuk "wedhangan", kita bukan Sayyidina Ali r.a, yang telah berikrar mentalak tiga kepada dunia, beliau pernah berkata "Wahai dunia, aku telah mentalak tiga kepadamu, silahkan perdayai selain aku, dan jangan tunggu aku untuk menikahimu, karena aku sudah menentukan istriku, yaitu Allah swt", kurang lebih begitu Sayyidina Ali pernah berkata, bagaimana beliau sudah tidak perduli dengan dunia dan seisinya.

Namun tidak demikian dengan kita sekarang, kita sangat mencintai apa yang ada di dunia, lautan, hutan, mall, bioskop, cafe, kuliner,  televisi dan lain sebagainya. Akan tetapi, endingnya tetaplah sama, jangan sampai kita mau melamar bahkan sampai menikahi dunia, sehingga kita berat untuk meninggalkan dunia, dan itulah yang terjadi saat ini, betapa banyak manusia yang sudah menikahi dunia dengan korupsi, melupakan tuhannya, lebih cinta dunia daripada akhirat.

Bukan berarti manusia saat ini tidak bisa berikrar seperti Sayyidina Ali r.a yang sudah mentalak tiga kepada dunia dan sudah tidak perduli dengan dunia, pasti ada manusia yang sanggup seperti beliau, namun hanya sedikit yang mampu.

Sekalipun kita cinta kepada dunia, kita minum (ngombe)  di dunia ini, jangan sampai kita mabuk kepayang, jangan sampai kita overdosis, sehingga pada akhirnya kita justru mengalami ketergantungan kepada dunia.